Saturday, January 19, 2008

muji ananta fashion

gabung dan nyalakan api semangat

1 comment:

ded said...

assalammualaikum.
perkenal kan nama saya ded kurniaone
salam kenal mas.
apa kabar mas, saya sangat suka dengan karya mas kebetulan saya juga hobi desainer, tapi saat ini hobbi itu saya diamkan, saya percaya jika apa yg kita kerjakan jika dengan hoby yang sangat ihklas pasti semua kan berhasil,
mas bisa tidak saya belajar sama mas, berkerja. ini no hp saya 085266626112 email dedkurniaone@yahoo.co.id, by ded

invite me

invite me

Gue dan KOPI

Gue dan KOPI

FILM GARAPAN GUE

FILM GARAPAN GUE

TAMPANG SEREM TP JINAK

TAMPANG SEREM TP JINAK
MONYA PASRAAAAAAAAH

CHAT BERSAMA MUJI ANANTA

Name :
Web URL :
Message :




my music


$ 84.20

$ 69

model favourite gue

sejarah fashion

kudu loe baca

favourite gue

inspirasi

show

malam kudus




BALI FASHION WEEK

BALI FASHION WEEK
KASUAL

BALI FASHION WEEK

BALI FASHION WEEK
anak anak kasual

BALI FASHION WEEK

BALI FASHION WEEK


Seni Tekstil dan Desain Mode

Program Seni Tekstil dan Mode bertujuan mempelajari, memahami, menguasai teori dan praktek wawasan keilmuan dan pengetahuan, perancangan seni Tekstil yang berorientasi kepada dunia “MODE” maupun penciptaan seni tekstil dengan mempertimbangkan aspek fungsi, estetika, kecenderungan gaya hidup, proses teknis dan memotivasi pasar.

Lulusan Program Studi seni Tekstil dan Mode diharapkan dapat menciptakan peluang pekerjaan, menjadi sarjana mandiri yang mampu berkarya, berwirausaha sebagai ahli dalam bidang tekstil dan mode, dapat sebagai perancang bentuk dan motif tekstil, perancang mode, pekerja di industri tekstil, studio fashion, pengamat tekstil dan mode.

VISI

Menjadikan Program Studi Seni Tekstil dan Desain Mode sebagai program studi yang memiliki jiwa kepeloporan di bidang keilmuan Kriya Seni Tekstil dan mampu mengembangkan Profesi Desainer tersebut sebagai faktor penunjang sektor industri nasional serta sektor pembangunan lainnya.

MISI

Berlatarkan visi program tersebut, misi Program Studi Seni Tekstildan Desain Mode menetapkan misinya pada pernyataan berikut :

Melaksanakan tanggung jawab yang diwujudkan dalam upaya kepeloporan pengembangan terus-menerus sistem pengajaran pembelajaran yang mampu menyesuaikan diri dengan beragam dinamika perubahan seni, desain tekstil didunia umumnya dan di Indonesia khususnya.

Mejadikan Program Studi Seni Tekstil dan Desain Mode sebagai pusat pemgembangan ilmu pengetahuan seni tekstil, pengembangan dan perancangan dari barang tekstil.

Melaksanakan tata kehidupan kampus di Program Studi Seni Tekstil dan Desain Mode, yang mampu menghasilkan mahasiswa yang profesional dan memiliki komitmen keilmuan yang memadai

FASHION DESIGN

Pendidikan bagi calon Desainer Mode ini difokuskan pada pengetahuan dan ketrampilan di bidang desain busana, konstruksi pola dan teknik jahit secara teori dan praktek. Dimulai dari konsep desain, proses pewujudan sampai pada karya dalam koleksi. Materi study juga termasuk fashion business, English for Fashion, serta mendesain dan membuat pola menggunakan komputer.

CAREER OPPORTUNITIES :

• Fashion Designer/Assistant Designer

• Fashion Illustrator

• Fashion Stylist

• Fashion Consultant

• Fashion Event Organizer

• Pattern Maker

• Production Supervisor

Color Theory for Fashion

Pengetahuan tentang psychology warna, jenis dan dimensi warna (hue, value, intensity) serta berbagai harmoni warna. Siswa akan membuat gambar lingkaran, dimensi warna, menerapkan harmoni warna pada bentuk geometris serta membuat collage of color psychology.

Elements & Principles of Fashion Design

Modul ini akan mengajarkan tentang elemen desain (warna, tesktur, garis, bentuk dan value) dan prinsip desain (proporsi, keseimbangan, irama dan pusat perhatian). Siswa akan menerapkan prinsip dan unsur desain pada gambar desain busana.

Model Drawing

Pelajaran tentang tubuh manusia dalam berbagai gerak dan pose serta proporsi tubuh dalam gambar modis. Siswa akan membuat gambar gambar modis untuk desain mode (figurine).

Design Research and Development

Modul ini bertujuan mengenalkan siswa pada berbagai siluet, bentuk dan bagian bagian busana. Siswa akan mengembangkan prototype busana menjadi bentuk bentuk baru sesuai trend mode (styling/rekayasa desain).

Fashion Illustration

Modul ini adalah tentang cara menggambar bentuk busana (siluet), tekstur kain, daya langsai dan kesan volume pada figurine serta penguasaan gambar modis dengan berbagai media.

Technical Drawing

Modul ini mengajarkan pembuatan gambar teknis (gambar tampak depan, belakang dan gambar serta fragmen detail) dari bentuk busana yang basic, secara manual dan menggunakan komputer.

Flat Pattern Making

Melalui analisis model, siswa akan belajar pembuatan pola dasar (flat pattern) : badan, rok, lengan, celana serta teknik pecah pola sesuai desain busana.

Sewing Techniques

Siswa akan belajar tentang alat dan bahan untuk pembuatan busana dan penguasaan pemilihan bahan, teknik merancang, teknik menggunting, teknik menjahit serta teknik pengepasan dalam pembuatan atasan, bawahan dan gaun.

(praktek : rok suai, rok mekar, gaun, blus, light jacket, blazer)

Textile Knowledge

Pengetahuan tentang asal dan jenis serat, sifat benang, macam konstruksi tenunan. Siswa akan melakukan identifikasi jenis tekstil dari sifat serat dan konstruksi tenunannya.

Creative Fabrics

Modul ini mengajarkan pada siswa berbagai teknik untuk membuat atau memanipulasi bahan menjadi bahan kreatif / artistik. Siswa akan membuat busana “art to wear” sebagai praktek.

(praktek : poncho dan tas)

History of Costume

Pengetahuan tentang sejarah mode dari Abad Abad Awal sampai dengan periode Byzantium. Pemahaman tentang ciri ciri busana dan aksesoris sesuai periode dalam sejarah mode. Siswa akan membuat desain busana theater.

Ethnic Costumes in Indonesia

Siswa akan belajar tentang bentuk serta nama busana dan kain dari berbagai daerah di Indonesia, serta pemakaian busana tersebut dalam budaya daerah. (praktek : desain busana dari kain tradisional)

Basic Fashion Business

Siswa akan belajar tentang istilah yang dipakai dalam niaga mode, fashion cycle dan pengenalan berbagai jenis garment industry.

Computer for Fashion Design / CAD

Siswa akan diperkenalkan dengan penggunaan software CAD untuk fashion design. Siswa akan membuat illustrasi mode, technical drawing dan worksheet.

Project Workshop

Didasarkan pada gambar desain dari Design Research and Development , siswa akan membuat pola, menerapkan teknik jahit dan menyelesaikan busana sesuai dengan kriteria dunia industri serta tuntutan konsumen. Project Workshop A : top / atasan Project Workshop B : bottoms / rok atau celana Project Workshop C : dress / gaun

English for Fashion 1

Modul ini mengajarkan tentang istilah-istilah yang dipakai di dunia mode, dalam bahasa Inggris. Siswa akan membuat narasi/komentar tentang busana dalam bahasa Inggris.

SEMESTER berikutnya

Fashion Illustration / Sketching

Modul ini mengajarkan siswa cara menggambar sketsa gambar modis, dan bentuk busana, tekstur kain, daya langsai dan kesan volume dengan gaya mengambar sendiri.

(praktek : membuat sketsa busana kantor dan koleksi).

Design Research and Development 2

Didasarkan pada event masa kini, trend mode serta riset dengan berbagai media, siswa akan merekayasa desain dari prototype tertentu menjadi serangkaian busana. Siswa akan dibimbing untuk menemukan gaya pribadi dalam desainnya.

Technical Drawing 2

Modul ini mengajarkan pembuatan gambar teknis dari bentuk busana yang lebih kompleks (gambar tampak depan, belakang, gambar spec), menggunakan komputer.

Flat Pattern Making II

Siswa akan menganalisis model busana yang lebih kompleks dan membuat pecah pola sesuai desain busana.

(praktek : kebaya, bustier, evening gown)

Sewing Techniques 2 (advanced)

Siswa belajar teknik menangani bahan lace, velvet, chiffon, silk dan penerapan teknik haute-couture pada evening wear dan kebaya. Siswa melaksanakan fitting pada dummy dan live-model.

Textile Knowlegde 2

Pengetahuan berbagai teknik penyelesaian/finishing pada tekstil dan jenis motif permukaan tekstil. Siswa juga akan belajar tentang hubungan trend tekstil dengan trend busana.

Textile Surface Design

Tujuan modul ini adalah agar siswa dengan menggunakan komputer dapat membuat desain tekstil (dengan “repeat”) untuk busana sesuai dengan fungsi dan target pasar.

Draping Techniques 1

Siswa belajar memahami fungsi dan letak garis-garis ukur (bodyline) pada dummy. Siswa berpraktek membuat pola dasar (badan atas dan rok) serta lengan untuk dummy.

Draping Techniques 2

Penguasaan pembuatan berbagai pola (toile) dari gambar desain atau foto busana, serta teknik menyesuaikan toile dengan ukuran yang ditentukan.

(praktek menggunakan toile sebagai flat pattern pada bahan).

History of Costume 2

Pengetahuan tentang periode sejarah dari Abad Pertengahan sampai Abad ke 20, serta unsur-unsur perubahan yang mempengaruhi mode. Siswa akan belajar tentang ciri ciri busana dan aksesoris sesuai periode.

(praktek membuatan desain busana dengan inspirasi dari periode tertentu).

Contemporary History of Fashion

Pengetahuan tentang sejarah Abad ke XX yang mempengaruhi perkembangan mode, baik dalam haute-couture maupun dalam busana siap pakai. Pemahaman tentang pengaruh film, musik, seni, dunia hiburan dan mass media pada trend mode.

(praktek membuatan desain busana dengan inspirasi dari dekade tertentu).

Basic Fashion Business 2

Pengetahuan tentang proses produksi pada garment industry, kode kode produksi serta pemasaran berdasar musim.

Computer for Pattern Making / CAD

Pengetahuan tentang penggunaan software CAD untuk pattern making dan pemahaman pembuatan pola, grading dan marking.

Fashion Collection & Portfolio 1

Modul ini bertujuan mengembangkan kreativitas dan visi calon desainer. Siswa akan membuat desain untuk koleksi kecil : sumber inspirasi, konsep, mood-board, rencana bahan dan warna, gambar 12 busana.

(praktek menyusun dan mempresentasikan portfolio dengan inspirasi film).

Fashion Collection & Portfolio 2

Modul ini memberi kesempatan pada siswa mengembangkan kreativitas dan inovasi, terkonsep dalam penguasaan teori dan praktek desain mode. Didahului dengan riset, siswa membuat desain untuk koleksi besar : sumber inspirasi, konsep, mood-board, profil konsumen, rencana bahan dan warna, gambar 30 busana dan technical drawing.

(praktek menyusun dan mempresentasikan portfolio dengan inspirasi tema tahunan lembaga ).

Project Workshop 2 (final mini collection)

Siswa akan mewujudkan tiga busana dari desain dalam Fashion Collection & Portfolio 2. Siswa membuat pola/toile, menjahit, melaksanakan fitting pada model dan menyelesaikannya. Melengkapi dengan aksesoris.

English for Fashion 2

Penguasaan dalam pembuatan konsep koleksi/pengantar karya serta mempresentasikan dalam bahasa Inggris.

Fashion Show Management

Siswa belajar tentang teknik penyelenggaraan, pameran, presentasi dan fashion show.

(penentuan tema, konsep dan event-organizer for fashion events)

Pattern Grading for Garment Industry

Pengetahuan tentang berbagai ukuran standard yang lazim dipakai pada garment industry, serta penerapan dalam pembuatan pola pada garment industry.

Enterpreneurship

Pengetahuan tentang kewirausahaan dalam bidang busan

----------------------------------------------------------------------

Mode dan Gaya Hidup

Ketika saya hendak menulis persoalan ini, satu teman saya mengatakan demikian, ”Mas saya kok enggak percaya dengan istilah metroseksual. Itu kalau enggak orangnya memang homoseksual, enggak mungkinlah, Mas.”

Saya tak heran mendengar pernyataan itu. Sesuatu yang berdekatan dengan keindahan tampaknya haram buat kaum pria. Gambaran itu persis seperti bagaimana setiap kali menonton adegan homoseksual, baik itu dalam film, sinetron, atau novel, pasti ada saja yang berperan jadi banci atau lakon kebanci-bancian. Padahal persoalan homo dan banci adalah persoalan yang berbeda bagaikan api dan air.

Saya sendiri tak terlalu mempersoalkan kata metroseksual meski belakangan kata ini begitu kondang. Sebagai seseorang yang sangat menyukai mode, termasuk tentunya mode pria, saya malah sering terbelalak kalau melihat perkembangan cara berpakaian kaum pria dari satu masa ke masa berikutnya.

Kalau saja banyak kaum pria mau memberi kesempatan kepada diri mereka membaca apa yang saya baca, sama seperti kesempatan yang diberikan mereka untuk tertarik membaca laporan balapan mobil atau pertandingan sepak bola, maka saya yakini mereka akan tercengang melihat bagaimana kaumnya menoreh sejarah berpakaian yang sangat menarik. Mereka juga akan berpakaian jauh lebih memikat, selain kemeja putih, dasi warna-warni, dan celana kain yang selalu saja dikenakan nyaris semua kaum pria di negeri ini. Dan saya pastikan mereka pasti setuju seperti saya bahwa kata metroseksual sudah terlalu basi untuk dijadikan isu menarik masa kini.

Sejarah mode pria

Anda tentu tahu istilah tuxedo, lounge suit, hip, dan wasp lahir sebagai istilah cara berpakaian kaum pria. Kalau Anda tak tahu itu semua, ini adalah pekerjaan rumah Anda, coba sediakan waktu sedikit untuk mengetahui semua itu. Kalau mau gampangnya, perhatikan saja gambar-gambar bagaimana raja-raja Eropa berpakaian untuk menunjukkan kedudukannya. Seragam perang mereka saja sama memikatnya dengan pakaian kebesaran sang raja.

Pada masa 1940-an, yang tentunya jauh lebih modern ketimbang masa para raja-raja itu, Perancis memiliki istilah the Zazous, yaitu cara berpakaian sekelompok pria tulen mengenakan setelan yang bantalan bahunya ”jatuh”, memiliki kantong flap, bercelana pipa, memakai sarung tangan, memakai kacamata siang dan malam, membawa payung, baik waktu hujan maupun saat matahari bersinar terik.

Kelompok ini bahkan memiliki minuman khusus berupa jus buah atau bir yang dicampur dengan grenadine, cocktail yang menurut mereka adalah hasil ciptaan kaum Zazou

Gerakan cara berpakaian baru ini merupakan gerakan antimode saat itu.

Pusat mode lainnya, seperti London, tak mau ketinggalan. Kota punk ini melahirkan istilah Teddy Boys pada masa 1954 yang merupakan gerakan mode pria melawan ketradisionalan aristokratik Savile Row dan Mayfair. Teddy Boys bisa disebut sebagai working-class dandies. Kemudian yang paling kondang gaya Mods pada masa 1960-an yang sekarang kembali lagi. Dan untuk informasi, semua tren dan cara berpakaian baru itu tidak dipelopori oleh kaum homoseksual.

Si tong sampah

Itu dahulu. Bagaimana sekarang? Sejak terjadinya gerakan-gerakan baru mode pria pada zaman dahulu itu, masihkah semangat pelopor itu terasa eksistensinya?

Tren mode yang seragam dari pusat mode dunia sudah menggilas idealisme pria untuk menjadi lebih menarik, dan berbicara dalam skala yang lebih kecil lagi, kita di Indonesia ini, rasanya semangat mencari sesuatu yang baru tenggelam bersama perasaan takut melakukan gerakan yang baru. Takut dikatakan seperti perempuan, takut dikatakan kegenitan, takut ini dan takut itu.

Kita selalu saja mempunyai pemikiran kuno bahwa menjadi indah dan menarik itu hanya milik dan urusan kaum perempuan. Sementara kalau bisa, laki-lakinya harus tegar, harus punya perut buncit, wajah kasar, tidak kehilangan kesenangan menonton pertandingan tinju dan melihat wanita telanjang.

Pandangan itu hanya membuat kaum pria menjadi tong sampah yang harus terlihat ”kotor” untuk senantiasa disebut laki-laki. Jadi ketika si tong sampah merasa mulai perlu membersihkan diri karena merasa saatnya sudah tiba dan sah dengan lahirnya kata metroseksual, maka lingkungan sekelilingnya mulai berteriak: ”Homo ya dia?”

PROGRAM STUDI DESAIN MODE DAN BUSANA

Mempelajari ketrampilan praktika dasar pengetahuan yang berkaitan dengan perancangan mode dan busana serta pengembangannya, meliputi konsep dasar perancangan yang berhubungan dengan tujuan, sasaran dan fungsi serta bahan dan teknik produksi perancangan yang mendukung sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

MATERI STUDI:

Pengetahuan sejarah mode, membahas prinsip-prinsip perancangan mode dan busana meliputi konsep rancangan mode adi busana, mode busana siap pakai, jenis-jenis bahan, rancangan patron, teknik pembuatan.

Industri Mode: Sinergi Desain, Manufaktur, dan Pencitraan

MODE dapat saja bersifat sementara, tetapi industri mode sendiri merupakan perwujudan sejarah budaya, sosial, dan ekonomi. Sebagai industri tampaknya ia tumbuh dari impian kapitalis tentang produksi yang konstan dan berlebihan untuk memasok pasar yang tak pernah merasa puas.

MODE membangkitkan minat berbagai golongan dan jender. Mode merupakan bentuk komunikasi lintas budaya dan merupakan bentuk pertukaran ekonomi. Istilah fashion (mode) mencakup ruang lingkup yang luas yaitu totalitas yang membentuk pakaian, metode produksi pakaian dan cara yang dipergunakn untuk menghasilkan pakaian. Dengan demikian mode merupakan bentuk kemelekan visual. Ketiga komponen tersebut merupakan bagian dari suatu infrastruktur yang rumit.

Mode juga tergantung pada kemampuan untuk menjual produk tersebut. Kita sering melihat di majalah mode bentuk pakaian yang tidak pernah terlihat dikenakan manusia sehari-hari. Pada umumnya kita mengukur tentang apa yang kita anggap mengikuti mode berdasarkan apa yang kita lihat di majalah dan berdasarkan pada apa yang kita lihat secara merata di toko, dan dari apa yang dikenakan orang-orang di jalanan. Hal tersebut terjadi karena citra "mode" perlu dilihat sebagai perubahan yang dapat dikenakan agar supaya ia mampu menunjukkan kedudukannnya sebagai mode.

Sampai tahun 1960-an, setiap musim cenderung untuk didominasi oleh satu atau dua citra mengenai bagaimana seharusnya penampilan laki-laki dan perempuan dalam berbusana agar tampak mengikuti mode.

Setelah masa tahun 1960-an gaya berpakaian yang dominan untuk setiap musimnya menjadi semakin kurang tampak jelas. Dan sekarang muncul beragam citra yang ditampilkan melalui panggung peragaan di pusat mode dunia, majalah, dan etalase toko. Hal tersebut bukan saja membingungkan konsumen, tetapi juga para produsen. Meskipun mode dapat melahirkan antagonisme dan pertentangan, tetapi mode masih tetap merupakan bentuk ekspresi diri yang paling bersifat pribadi dan paling dapat diakses oleh setiap orang.

PADA abad ke-19 mekanisasi dan produksi massal telah mengubah sifat dari mode. Selain itu mekanisasi tersebut juga telah meletakkan dasar industri mode seperti yang kita kenal sekarang. Adibusana, yaitu mode untuk kaum elite juga muncul pada abad ke-19 dan merupakan ujung seberang spektrum produksi massal. Proses pembuatan pakaian adibusana seluruhnya dikerjakan dengan tangan dan memiliki kemampuan sangat besar untuk bereksperimen. Pengerjaan adibusana yang terbatas dan berbiaya tinggi biasanya diimbangi oleh koleksi siap pakai yang bersifat cost-effective dan oleh pelanggan kaya yang membutuhkan desain lebih ekslusif. Dasar pijakan dalam perancangan pakaian ialah bahwa hasil akhirnya harus memenuhi kriteria tertentu yang tidak selalu harus ditentukan oleh si desainer.

Perancangan busana lebih berkaitan dengan hasil ciptaan (invention) dan bukan merupakan penemuan baru (innovation), dengan mempergunakan bentuk-bentuk yang sudah ada seperti sweater, gaun, jas sebagai dasar untuk pengolahan kembali. Apa pun hasil akhirnya, ia harus dapat "diisi" oleh tubuh manusia.

Menurut Ash dan Wright (1988) terdapat beberapa komponen utama yang membentuk mode, yaitu produksi, komoditi, pemasaran, strata sosial, dan pencitraan oleh media.

Pembuatan pakaian secara massal tergantung pada proses industri. Hal tersebut dimulai di Inggris pada tahun 1870 yaitu ketika mesin jahit mengubah metode pembuatan pakaian dan hal tersebut mendorong kelahiran industri pakaian siap pakai. Meskipun demikian industri tersebut tidak serta-merta secara instan mengubah cara pembuatan pakaian dari yang semula dikerjakan dengan tangan menjadi mempergunakan mesin. Pada beberapa bagian di industri pakaian pengerjaan dengan tangan masih terus dilakukan berdampingan dengan metoda industri.

Komponen kedua ialah kain. Kain merupakan suatu unsur intrinsik dari industri mode karena dalam hal ini pabrik tekstil bertindak sebagai penyedia jasa dan merupakan faktor yang krusial dalam mendorong munculnya mode-mode baru. Pengetahuan yang mendalam tentang tekstil sangatlah penting bagi seorang desainer karena proses mendesain dan produk akhir benar-benar tergantung pada pilihan kain.

Meningkatnya konsumsi pakaian tergantung pada sistem sosial yang mendorong seseorang untuk meyakini bahwa makin banyak dia memiliki pakaian adalah sangat penting bagi penampilan yang baik dan untuk menghadiri dua kegiatan sosial yang berbeda secara berurutan dalam pakaian yang sama dapat menjadi tanda bahwa dia tidak inovatif dan tidak orisinal dalam berpenampilan. Dalam hal ini, penampilan dan "kreativitas" mulai memiliki makna baru.

Perhatian dari pemasaran di dunia mode tidak melulu ditujukan pada kebaruan suatu produk, tetapi lebih kepada presentasi penggayaan mode yang sudah ada yang cocok dengan kecenderungan yang sedang berlaku. Di dunia mode kenangan akan suatu era yang telah lampau atau inspirasi yang berdasarkan pada budaya di luar budaya kita sendiri, misalnya Tibet atau India, sering diulang-ulang untuk diolah kembali.

Pakaian biasanya dirancang untuk menarik minat salah satu jender saja melalui upaya sadar untuk "mewujudkan" ciri-ciri yang menampakkan jender tersebut. Dalam bidang mode pemisahannya tampak sangat jelas dan hanya sejumlah kecil pakaian saja yang memiliki sifat nonjender.

Dalam dunia mode terdapat "tradisi" yang sudah turun-temurun yang secara terus-menerus diolah sedemikian rupa agar sesuai dan ditujukan bagi suatu jender. Pada akhir abad ke-17 di Eropa, rok/gaun dan setelan jas telah secara mapan diakui sebagai bentuk pakaian yang tepat untuk membedakan jenis kelamin. Dan sampai sekarang kalaupun terjadi perubahan, sangatlah kecil.

Bentuk pakaian yang sudah mapan tersebut selalu mendapat tantangan untuk diubah. Misalnya pada tahun 1960-an muncul tema rok/gaun yang ditawarkan kepada kaum pria. Meskipun demikian inovasi seperti itu tidak mampu merombak bentuk pakaian yang sudah umum. Pemisahan secara visual melalui ciri tubuh sudah berlangsung sejak zaman Romawi dan Yunani. Sejak abad ke-19 perubahan gaya pakaian terus berlangsung, tetapi perubahan tersebut secara radikal lebih berpengaruh pada pakaian wanita ketimbang pada pakaian pria. Sejarah pakaian pria sangat berbeda dengan sejarah pakaian perempuan karena perubahan gaya pada pakaian pria tidak seekstrem pakaian wanita.

DENGAN berjalannya waktu, terjadi pula perubahan. Pendapat bahwa mode hanya untuk kaum wanita mendapat tantangan. Industri pakaian siap pakai untuk pria semakin menyadari kekuatan perubahan style pada pakaian pria. Pada masa setelah usai Perang Dunia II, gaya kaum muda mendominasi pasar dan mode-mode yang bersifat subkultural bagi kaum pria telah menentang norma yang berlaku. Tekanan yang muncul dari kecenderungan seperti itulah yang telah mengilhami industri pakaian pria untuk memperluas tipologi produknya.

Di Inggris pada tahun 1980-an, pakaian pria yang dijual di toko mengalami perubahan mengarah ke pakaian kasual yang bisa jadi secara tidak langsung dipengaruhi subkultur The Casual yang pada masa itu. Ternyata hal tersebut menjadi kekuatan pasar yang signifikan dalam pembelian pakaian santai berkelas.

Demikianlah industri mode yang secara sepintas sering digambarkan sebagai dunia yang gemerlap indah, tetapi di baliknya terdapat serangkaian proses yang memeras keringat, sesuatu yang jauh dari seperti yang tampil di panggung peragaan atau halaman majalah mode.

SILABUS

Mata Kuliah : Creative material/ texstil mode

Kode Mata Kuliah :

SKS :

Dosen : Muji Ananta

Jurusan/Program : Tata Busana

Syarat : -

Waktu Perkuliahan : Teori/ Praktek

Deskripsi Mata Kuliah

Konsep dasar busana, hakekat dan fungsi busana, perkembangan busana, etika dan estetika busana, busana untuk berbagai kesempatan, motif berbusana, istilah-istilah dalam model busana dan penerapannya, pelengkap busana, model busana, penerapan busana dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan bahan dan pembuatan busana.

Pengalaman Belajar

Selama mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan

kuliah teori (ceramah, tanya jawab, dan diskusi di kelas)

Evaluasi Hasil Belajar

Keberhasilan mahasisiwa di perkuliahan ditentukan oleh prestasi yang bersangkutan dalam :

Partisipasi kegiatan kelas

Pembuatan tugas makalah

UTS dan UAS

Uraian Pokok Bahasan Setiap Pertemuan

Konsep dasar busana meliputi pengertian busana, konsep dasar busana, dan kajian busana.

Hakekat dan fungsi busana meliputi keberadaan dan kegunaan busana, bentuk dasar ukuran, standar busana sebagai pelindung, busana sebagai alat penunjang komunikasi, dan busana sebagai alat memperindah.

Perkembangan awal busana meliputi busana barat, busana nasional, dan busana tradisional.

Etika dan estetika berbusana meliputi pengertian dan penerapan etika berbusana, pengertian estetika berbusana, dan keserasian berbusana.

Busana untuk berbagai kesempatan meliputi kesempatan di rumah, kesempatan kerja/kuliah/sekolah, kesempatan bepergian, kesempatan rekreasi, kesempatan olah raga, kesempatan melayat, dan kesempatan menghadiri acara keagamaan.

Motif berbusana meliputi motif religi, motif budaya, dan motif kebersamaan.

Motif berbusana meliputi motif mode, motif wusan, dan motif olam.

Istilah-istilah dalam model busana dan penerapannya meliputi istilah berbagai jenis busana, istilah garis model, istilah bentuk garis leher, dan istilah berbagai model rok.

UTS

Istilah-istilah model busana dan penerapannya meliputi istilah berbagai model lengan, istilah berbagai model celana dan pakaian dalam, jenis kain, warna dan corak kain.

Pelengkap busana meliputi pengertian pelengkap busana milineris, aksesories, penggunaan pelengkap busana.

Mode busana meliputi pengertian mode busana, kaitan mode busana dan perkembangan tekstil, perkembangan untuk busana, pengarah mode busana.

Peranan busana dalam kehidupan sehari-hari meliputi busana untuk menunjukkan identitas diri, busana sebagai fungsi sosial, busana untuk sukses.

Pengetahuan bahan dan pembuatan busana meliputi bahan busana sederhana, dan bahan busana mahal.

Pengetahuan bahan dan pembuatan busana meliputi keterampilan bidang busana, teknologi dan metode pembuatan busana.

Konsep Dasar Busana

a. Pengertian busana

b. Lingkup busana

c. Kajian busana

Hakekat dan Fungsi Busana

a. Keberadaan dan kegunaan busana

b. Bentuk dasar ukuran standar busana

c. Busana sebagai pelindung

d. Busana sebagai alat penunjang komuni-kasi

e. Busana sebagai alat memperindah

Perkembangan Awal Busana

a. Busana barat

b. Busana nasional

Busana tradisional

Etika dan Estetika Berbusana

a. Penerapan dan pengertian etika berbu-sana

b. Pengertian estetika berbusana

c. Keserasian berbusana

Busana Untuk Berbagai Kesempatan

a. Kesempatan di rumah

b. Kesempatan kerja / kuliah

c. Kesempatan pesta

d. Kesempatan rekreasi

e. Kesempatan olah raga

f. Kesempatan melayat

g. Kesempatan menghadiri acara keagama-an

Motif berbusana

a. Motif religi

b. Motif budaya

c. Motif kebersamaan

d. Motif mode

e. Motif urusan

f. Motif alam

Istilah-istilah Dalam Model Busana dan Penerapannya

a. Istilah berbagai jenis busana

b. Istilah garis model

c. Istilah bentuk garis leher

d. Istilah berbagai model rok

Istilah-istilah Dalam Model Busana dan Pe-nerapannya

a. Istilah berbagai model lengan

b. Istilah berbagai model celana dan pakai-an dalam

c. Jenis kain

d. Warna dan corak kain

Ujian Tengah Semester

Pelengkap Busana

a. Pengertian pelengkap busana

b. Milineris

c. Aksesoris

d. Penggunaan pelengkap busana

Mode Busana

a. Pengertian mode busana

b. Kaitan mode busana dan perkembangan tekstil

c. Perkembangan mode busana

d. Pengeruh mode busana

Peranan Busana dalam Kehidupan Sehari-hari

a. Busana untuk menunjukkan identitas diri

b. Busana sebagai fungsi sosial

c. Busana untuk sukses

Pengetahuan Bahan dan Pembuatan Busana

a. Bahan busana sederhana

b. Bahan busana modern

c. Keterampilan bidang busana

Teknologi dan metode pembuatan busana

Ujian Akhir Semester

DAFTAR LITERATUR

Armstrong, Helen Joseph. (2000). Gattern Making for Fashion Design. New Jersey : Prentice Hall, Inc.

Bane Allyne. (1973). Creative Clothing Construction. New York : Mc Gran Hall, Inc.

Davis, Marian L. (1980). Visual Design In Press. USA : Printed in the United States of America.

Dewi Motik. (1991). Tatakrama Berbusana dan Bergaul. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Enny Rachim. (1983). Etiket dan Pergaulan. Bandung : PT. Karya Nusantara.

Farida Gunawan. [t. t.]. Peristilahan Pada Bidang Busana. Makalah, [t.k.], [t.p.].

Goet Poespo. (2000). Aneka Gaun (Dresses). Yogyakarta : Kanisius.

____. (2000). Aneka Krah (Collars). Yogyakarta : Kanisius.

____. (2001). Jaket, Mantel, dan Vest. Yogyakarta : Kanisius.

Yudi Achjadi. (1976). Pakaian Daerah Wanita Indonesia. Jakarta : Djambatan.

Roosmy M. Sood. (1981). Hubungan Bentuk-Bentuk Dasar Busana dengan Busana

Tradisional Indonesia. Jakarta : Proyek Pengembangan Perguruan Tinggi.

Sarumpaet, R. I. (1979). Etiket Bergaul. Bandung : Indonesia Publishing House.

Sumarlien dkk. (1992). Etika dan Estetika Busana. Bandung : Sarijadi.

SEJARAH JEANS

Pada tahun 1850-an pemuda berumur 21 tahun bernama Levi Strauss tiba di San Francisco, Amerika, dari Bavaria, Eropa, untuk mencoba peruntungannya, ia tidak menyadari bahwa dia sedang mulai membuat sebuah sejarah yang menjadi sumbangan terbesar Amerika untuk dunia mode sampai sekarang.

Strauss mencoba menjual tenda-tenda kanvas kepada para penggali tambang emas. Masa itu, Amerika memang sedang terkena demam emas. Bukannya tertarik pada tawaran Strauss, para penambang itu malah minta dibawakan celana panjang. Nama Levi's pun lahir ketika para penambang yang ketagihan celana Levi, mencari "those pants of Levi's" (celana si Levi) yang terbuat dari denim. Di Amerika, kata Levi's bersinonim dengan denim jins.

Kata jeans yang kini lekat dengan denim berasal dari peng-amerika-an kata bahasa Perancis Genes yang berarti Genoa, yaitu kota yang memproduksi celana denim di Italia, yang sebetulnya berasal dari Nimes di Perancis. Sedangkan istilah blue jeans muncul ketika Levi mencelup denimnya dengan warna indigo.

Telah lebih seabad setelah Levi memopulerkan celana jins. Kini denim tetap digemari bahkan naik kelas karena menjadi produk perancang terkenal dunia. Bahkan denim menjadi produk para perancang yang bekerja di Paris, kota yang mengutamakan keanggunan. Tentu saja denim mengalami masa-masa jatuh-bangun sebelum dia mendapatkan posisinya seperti saat ini.

Ada masa dia identik sebagai pakaian untuk pekerja kasar yang bekerja di luar ruang, karena memang denim yang semula terbuat dari katun ini memiliki ketahanan luar biasa menghadapi lingkungan yang keras.

Secara generik, denim adalah tenunan benang katun. Semula warna benangnya hanyalah putih dan biru yang asal-usulnya berasal dari sebuah kota di Perancis: Nimes yang menjadi asal kata denim yaitu serge de Nimes.

Pada tahun 1940-an denim sebenarnya sudah diolah menjadi produk mode dalam bentuk gaun, rok, jaket, dan celana panjang. Denim kemudian mencapai puncak popularitasnya pada tahun 1970-an ketika jins diproduksi massal.

Pada era tahun 1970-an ketika Barat dilanda "endemi" hippie, jins menjadi salah satu atribut yang melekat pada mereka, menjadi simbol pemberontakan terhadap kemapanan. Tidak jarang "para pemberontak" itu sengaja mengoyak-ngoyak celana jins mereka untuk mempertegas penolakan mereka pada kemapanan.

Mereka yang menganggap diri pengikut mode, pernah tidak tertarik pada jins. Jins lalu berkembang lebih sebagai baju untuk para pekerja kerah biru di Amerika. Jins bahkan kemudian identik dengan pakaian kerja para koboi ketika menggembala sapi mereka dari atas kuda mereka.

Perputaran roda mode akhirnya sampai pada suatu masa di mana ide dipungut dari mana saja, dari waktu kapan saja, lalu dirakit menjadi sebuah bentuk baru untuk orang masa kini. Percampuran atau eklektisisme ini mewarnai kehidupan masyarakat pascatahun 1970-an, tetapi sangat terasa pada dunia mode era 1990-an dan terus terjadi sampai kini.

Sebelum perancang memungut denim dari lemari pakaian kelas pekerja dan menjadikannya gemerlap sebagai produk perancang, para perancang telah lebih dulu mengambil gaya berbusana kelompok-kelompok tertentu seperti komunitas punk, komunitas peselancar, komunitas pejuga gaya gotik, dan sebagainya.

Kebangkitan denim sebagai produk perancang paling mencolok terjadi ketika pada tahun 1990-an Tom Ford dari rumah mode Gucci mengangkat jins sebagai fashion statement-nya.

Ford yang ketika itu menjadi perancang yang dikagumi karena kejeniusan rancangannya berhasil mengangkat pamor Gucci, menawarkan celana denim berwarna pudar yang koyak di banyak tempat. Tentu bukan Ford bila tidak membuat jins tersebut gemerlap, sehingga ia menambahkan hiasan bulu-bulu di bagian depan bawah celananya, menyulamkan mutiara dan payet sehingga jins tersebut pantas menyandang nama Gucci.

Madonna ikut mempulerkan kembalinya jins melalui tur dunianya awal tahun ini yang memakai tema koboi sebagai tema pakaian. Begitu pula penyanyi kondang seperti Britney Spears dan Shakira, mereka terlihat beberapa kali menggunakan denim dalam klip video musik mereka.

Bukan hanya Ford yang melihat peluang kembalinya jins seiring dengan perubahan suasana hati ke arah gaya yang lebih kasual terutama di kalangan kerah putih yang bekerja di bidang teknologi informasi di Amerika. Perancang lain pun berlomba-lomba mendesain ulang jins. Versace, Roberto Cavalli, Calvin Klein, Dolce dan Gabbana, dan Christian Dior, hanyalah beberapa nama besar di bisnis mode yang mencoba mengambil manfaat dari kembalinya jins. Bahkan John Galliano yang bekerja untuk rumah mode Christian Dior masih menggunakan denim dalam salah satu rancangan adibusana untuk musim gugur dan dingin 2002/2003.

Denim telah bertahan melalui dua kali pergantian abad.

Para perancang Indonesia juga tidak imun dengan perkembangan ini. Mereka menggunakan denim di dalam rancangan mereka. Mulai dari duet Era Soekamto dan Ichwan untuk label mereka Urban Crew yang ditujukan bagi mereka yang muda usia, sampai Ronald Very Gaghana. Carmanita pun memakai denim dalam rancangan tahun 2002-nya, sementara rumah mode Christian Dior sudah beberapa kali mengeluarkan denim untuk label siap pakai.

Ronald V Gaghana menawarkan cara penggunaan denim yang berbeda. Dia memadukannya dengan gaya romantis. Jaket denim berwarna coklat pasir itu dikoyak-koyak, tetapi dipadukan dengan rok sutera sifon yang lembut. Lalu masih dilunakkan lagi dengan penggunaan kalung mutiara yang memberi kesan mewah dan anggun. Itulah gaya eklektik yang menurut para pemikir postmodernisme menjadi salah satu ciri masyarakat pada era kapitalisme lanjut ini.

Dalam dunia nyata, di sini denim juga kembali ikut naik daun. Variasi model sangat beragam, mulai dari warna yang beragam, bergaya klasik, yang berpayet, hingga yang dibuat warnanya pudar sebagian dengan kontras yang tajam. Modelnya pun terus berganti-baggy, melebar di ujung pipa bawah, ketat membalut kaki, sebagai celana panjang, celana tiga perempat, hingga hotpants. Yang sekarang sedang digemari adalah hipster, celana denim yang dikenakan di pinggul. Apa pun variasi yang dilakukan, namun denim dalam warna biru indigo selalu diasosiasikan sebagai pakaian kasual.

Bukan hanya penampilan, kenyamanan mengenakannya pun bertambah dengan ditemukannya serat Lycra. Harga pun relatif terjangkau, mulai dari Rp 120.000 per celana, sementara celana jins dari perancang internasional di toko resmi harganya mulai dari 200 dollar AS. Dengan kata lain, denim sebagai produk generik bisa disebut sebagai pakaian yang paling egaliter karena semua orang mau memakai dan bisa memakai. Namun, ketika di dalamnya sudah masuk campur tangan para perancang, maka diferensiasi harga dan status pun terjadi. Itulah kekuatan sebuah citra produk. Dia akan mengontrol penontonnya mengikuti aturan-aturan yang dia tentukan.

140 Tahun Mode Perancis

TEMA "140 Tahun Mode Perancis, 1880 … 2020" memang menggelitik dan juga menimbulkan pertanyaan. Mengapa diambil angka tahun 1880 dan 2020? Adakah yang istimewa pada dua tahun tersebut? Tahun yang telah lewat lebih mudah dicari maknanya karena ada banyak dokumen tertulis mengenainya, tetapi tahun 2020?

TEMA itulah yang diangkat oleh Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) untuk salah satu kegiatannya tahun ini. Penerjemahan tema itu digarap oleh siswa-siswa sekolah mode Esmod Jakarta dan dipresentasikan di kediaman "orang-orang Perancis di Jakarta" di Kebayoran Baru, Jakarta, pada Senin (12/5/3) lalu.

Tema tersebut memberi kesempatan kepada para siswa untuk memahami sejarah mode guna menggali ide orisinal dan kreativitas untuk melihat ke masa depan. "Dengan pemahaman tentang sejarah mode yang berarti juga perkembangan mode itu sendiri, siswa akan bisa menciptakan karya-karya baru yang orisinal, tahu arah masa depan, dan tidak hanya meniru. Mode, kan, bukan hanya menjahit, dia adalah pencipta tren,"

Pendapat tersebut tidak berlebihan bila kita melihat perkembangan mode saat ini. Hampir semua perancang saat ini mengambil inspirasi mereka dari masa lalu, mulai dari abad ke-19 hingga ke masa-masa Yunani Kuno dengan gaun-gaun bergaya toga atau draperi.

Mode memang sebuah siklus, termasuk dalam hal inspirasi. Apa yang pernah muncul pada masa lalu bukan barang terlarang untuk didaur ulang. Gaun dengan garis pinggang di bawah dada (empire dress), misalnya, bisa dicari padanannya hingga ke gaun para perempuan bangsawan abad ke-18 atau ke-19. Tetapi, industri mode memiliki sebuah aturan yang membuatnya terus menggelinding maju, yaitu kekinian. Mendaur ulang sebuah gaya tetap menuntut persyaratan disesuaikan dengan suasana zaman paling mutakhir. Itu yang menyebabkan pengetahuan tentang sejarah mode menjadi penting, terutama ketika membuat sebuah proyeksi tren sebelum orang lain membuat.

LALU mengapa diambil angka tahun 1880? Direktur CCF Jakarta Jany Bourdais menyebut tahun 1880 adalah tahun yang penting dalam sejarah mode Perancis. Saat itu para perancang mode memberi kebebasan bergerak kepada perempuan. Tahun 1880 identik dengan semangat kebebasan, dan mode bukanlah sesuatu yang semata-mata bersifat komersial, tetapi lebih bernuansa budaya.

Francois Boucher di dalam bukunya 20.000 Years of Fashion memasukkan tahun 1880 dalam sebuah periode penting perkembangan mode yang mencakup tahun 1868-1914. Menurut Boucher, kos- tum Eropa di Dunia Lama (daratan Eropa) dan Dunia Baru (Benua Amerika) mengalami perkembangan yang sama. Sementara di Asia dan Afrika kostum Eropa juga mulai diterima sejalan dengan ekspansi industrialisasi Eropa dan Amerika Utara.

Pada periode ini pula mode dari Perancis berhasil menanamkan pengaruhnya dan diterima di berbagai bagian dunia di mana orang-orang Eropa berada. Karena itu, demikian Boucher, bila periode ini ingin diberi ciri, maka sejarah mode periode ini adalah sejarah kostum Perancis.

Periode tersebut juga ditandai oleh kestabilan dan kemakmuran Eropa-antara lain karena kekayaan alam dari negeri jajahan yang diekstraksi ke Eropa serta Revolusi Industri-yang membuat orang- orang kaya di Eropa tidak mencemaskan masa depan. Akibat kehidupan yang tenang serta kemakmuran pada kelompok elite, mereka lalu menciptakan kode-kode berbusana yang ketat. Lahirlah apa yang disebut busana untuk ke opera, busana untuk menonton pacuan kuda, dan berbagai acara lainnya.

Perkembangan kostum dimulai pada periode ini adalah perubahan yang semakin cepat dibandingkan masa-masa sebelumnya karena lahirnya teknologi baru dalam pewarnaan dan penenunan. Tahun 1885, misalnya, seorang tailor dari Inggris yang membuat toko di London dan Paris, Redfern, memperkenalkan untuk pertama kalinya tailored suit untuk perempuan. Kemudian pada awal abad ke-10 dia memperkenalkan "setelan untuk berjalan-jalan" di mana ujung bawah gaun hanya mencapai permukaan tanah (gaun-gaun sebelumnya ujung bawah gaun menyapu tanah), dan kemudian memperkenalkan jaket luar (coat) yang diinspirasi jaket laki-laki. Meskipun begitu, masa ini para couturier masih mendiktekan apa yang disebut mode dan konsumen yaitu kalangan bangsawan dan perempuan kaya ikut saja.

Perang Dunia I membebaskan para perempuan dari dominasi para couturier yang terpaksa menutup rumah mode mereka dan hanya beberapa saja yang kemudian membuka rumah modenya lagi.

Pada saat itu juga terjadi perubahan peran perempuan yang dituntut menggantikan peran suami mereka di sektor publik. Para perempuan kelas atas kehilangan para pegawai laki-laki karena harus pergi berperang dan karyawan perempuan yang harus menggantikan kerja suami mereka yang pergi berperang. Perempuan kelas atas pun harus berpartisipasi dalam kerja sosial sehingga mereka tidak lagi bisa bermalas-malas di rumah. Dampak perubahan gaya hidup ini juga berakibat pada perubahan jenis busana. Para perempuan ini membutuhkan baju yang lebih nyaman dipakai dan praktis.

Setelah periode ini, busana perempuan mengalami perubahan sejalan dengan perubahan struktur sosial masyarakat dengan kebangkrutan banyak kelas bangsawan. Mode menjadi lebih egaliter, rok pun semakin memendek, stoking berbahan sutra menjadi simbol kemakmuran, sepatu tutup menggantikan bot, dan pakaian dalam pun menjadi lebih sederhana.

Setelah Perang Dunia I, perempuan tak mau lagi kembali ke masa sebelumnya. Kebebasan, kehidupan publik, lebih menarik untuk perempuan yang kemudian memilih rambut berpotongan pendek, menikmati olahraga luar ruang, dan menikmati dansa modern serta aktivitas nondomestik lainnya. Tren ini terus berlangsung hingga kini dan ke depan untuk waktu yang setidaknya berani kita prediksikan.

KARYA para siswa Esmod yang ditampilkan Senin petang pekan lalu mencoba mewakili perubahan gaya hidup pada era yang dijadikan tema pergelaran. Baju dalam (petticoat) yang menjadi keharusan pada pakaian perempuan era akhir abad ke-19 diolah hingga menjadi gaun pendek yang memberi nuansa gembira.

Baju karier yang menandai era emansipasi perempuan dengan memasuki lapangan-lapangan kerja di sektor publik pada awalnya mengimitasi pakaian laki-laki karena perempuan masih menganggap untuk menjadi sukses harus menjadi seperti laki-laki. Tetapi, kemudian perempuan menyadari bahwa sifat-sifat kewanitaan mereka bukanlah inferior dibandingkan maskulinitas laki-laki sehingga perempuan tak ragu-ragu menggunakan bahan renda untuk pakaian kerja. Pakaian dalam (lingerie) yang menonjolkan sensualitas perempuan pun tak tabu ditampilkan sebagai pakaian sehari-hari, sementara celana panjang diadopsi karena sifatnya yang praktis untuk mengakomodasi kesibukan seorang perempuan urban.

Sayangnya, pergelaran ini hanya mengonsentrasikan diri pada busana perempuan. alasan tentang fokus pada busana perempuan, yaitu perubahan busana laki- laki tidak semencolok perubahan pada busana perempuan.

Padahal, busana laki-laki pun ikut mengalami perubahan meskipun tidak sedramatis busana perempuan. Dari yang penuh detail dan kegenitan pada masa pra-abad ke-20 ke gaya yang lebih kaku pada abad ke-20, dan menjadi lebih longgar ketika waktu bergulir menuju abad ke-21. Apa pun, menyaksikan perjalanan mode adalah melihat perubahan semangat zaman sebuah masyarakat. Tidak heran bila Jany Bourdais menyebut mode adalah bagian dari kebudayaan, sekalipun kebudayaan itu barangkali bersifat pop.

140 Tahun Mode Perancis

TEMA "140 Tahun Mode Perancis, 1880 … 2020" memang menggelitik dan juga menimbulkan pertanyaan. Mengapa diambil angka tahun 1880 dan 2020? Adakah yang istimewa pada dua tahun tersebut? Tahun yang telah lewat lebih mudah dicari maknanya karena ada banyak dokumen tertulis mengenainya, tetapi tahun 2020?

TEMA itulah yang diangkat oleh Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) untuk salah satu kegiatannya tahun ini. Penerjemahan tema itu digarap oleh siswa-siswa sekolah mode Esmod Jakarta dan dipresentasikan di kediaman "orang-orang Perancis di Jakarta" di Kebayoran Baru, Jakarta, pada Senin (12/5/3) lalu.

Tema tersebut memberi kesempatan kepada para siswa untuk memahami sejarah mode guna menggali ide orisinal dan kreativitas untuk melihat ke masa depan. "Dengan pemahaman tentang sejarah mode yang berarti juga perkembangan mode itu sendiri, siswa akan bisa menciptakan karya-karya baru yang orisinal, tahu arah masa depan, dan tidak hanya meniru. Mode, kan, bukan hanya menjahit, dia adalah pencipta tren,"

Pendapat tersebut tidak berlebihan bila kita melihat perkembangan mode saat ini. Hampir semua perancang saat ini mengambil inspirasi mereka dari masa lalu, mulai dari abad ke-19 hingga ke masa-masa Yunani Kuno dengan gaun-gaun bergaya toga atau draperi.

Mode memang sebuah siklus, termasuk dalam hal inspirasi. Apa yang pernah muncul pada masa lalu bukan barang terlarang untuk didaur ulang. Gaun dengan garis pinggang di bawah dada (empire dress), misalnya, bisa dicari padanannya hingga ke gaun para perempuan bangsawan abad ke-18 atau ke-19. Tetapi, industri mode memiliki sebuah aturan yang membuatnya terus menggelinding maju, yaitu kekinian. Mendaur ulang sebuah gaya tetap menuntut persyaratan disesuaikan dengan suasana zaman paling mutakhir. Itu yang menyebabkan pengetahuan tentang sejarah mode menjadi penting, terutama ketika membuat sebuah proyeksi tren sebelum orang lain membuat.

LALU mengapa diambil angka tahun 1880? Direktur CCF Jakarta Jany Bourdais menyebut tahun 1880 adalah tahun yang penting dalam sejarah mode Perancis. Saat itu para perancang mode memberi kebebasan bergerak kepada perempuan. Tahun 1880 identik dengan semangat kebebasan, dan mode bukanlah sesuatu yang semata-mata bersifat komersial, tetapi lebih bernuansa budaya.

Francois Boucher di dalam bukunya 20.000 Years of Fashion memasukkan tahun 1880 dalam sebuah periode penting perkembangan mode yang mencakup tahun 1868-1914. Menurut Boucher, kos- tum Eropa di Dunia Lama (daratan Eropa) dan Dunia Baru (Benua Amerika) mengalami perkembangan yang sama. Sementara di Asia dan Afrika kostum Eropa juga mulai diterima sejalan dengan ekspansi industrialisasi Eropa dan Amerika Utara.

Pada periode ini pula mode dari Perancis berhasil menanamkan pengaruhnya dan diterima di berbagai bagian dunia di mana orang-orang Eropa berada. Karena itu, demikian Boucher, bila periode ini ingin diberi ciri, maka sejarah mode periode ini adalah sejarah kostum Perancis.

Periode tersebut juga ditandai oleh kestabilan dan kemakmuran Eropa-antara lain karena kekayaan alam dari negeri jajahan yang diekstraksi ke Eropa serta Revolusi Industri-yang membuat orang- orang kaya di Eropa tidak mencemaskan masa depan. Akibat kehidupan yang tenang serta kemakmuran pada kelompok elite, mereka lalu menciptakan kode-kode berbusana yang ketat. Lahirlah apa yang disebut busana untuk ke opera, busana untuk menonton pacuan kuda, dan berbagai acara lainnya.

Perkembangan kostum dimulai pada periode ini adalah perubahan yang semakin cepat dibandingkan masa-masa sebelumnya karena lahirnya teknologi baru dalam pewarnaan dan penenunan. Tahun 1885, misalnya, seorang tailor dari Inggris yang membuat toko di London dan Paris, Redfern, memperkenalkan untuk pertama kalinya tailored suit untuk perempuan. Kemudian pada awal abad ke-10 dia memperkenalkan "setelan untuk berjalan-jalan" di mana ujung bawah gaun hanya mencapai permukaan tanah (gaun-gaun sebelumnya ujung bawah gaun menyapu tanah), dan kemudian memperkenalkan jaket luar (coat) yang diinspirasi jaket laki-laki. Meskipun begitu, masa ini para couturier masih mendiktekan apa yang disebut mode dan konsumen yaitu kalangan bangsawan dan perempuan kaya ikut saja.

Perang Dunia I membebaskan para perempuan dari dominasi para couturier yang terpaksa menutup rumah mode mereka dan hanya beberapa saja yang kemudian membuka rumah modenya lagi.

Pada saat itu juga terjadi perubahan peran perempuan yang dituntut menggantikan peran suami mereka di sektor publik. Para perempuan kelas atas kehilangan para pegawai laki-laki karena harus pergi berperang dan karyawan perempuan yang harus menggantikan kerja suami mereka yang pergi berperang. Perempuan kelas atas pun harus berpartisipasi dalam kerja sosial sehingga mereka tidak lagi bisa bermalas-malas di rumah. Dampak perubahan gaya hidup ini juga berakibat pada perubahan jenis busana. Para perempuan ini membutuhkan baju yang lebih nyaman dipakai dan praktis.

Setelah periode ini, busana perempuan mengalami perubahan sejalan dengan perubahan struktur sosial masyarakat dengan kebangkrutan banyak kelas bangsawan. Mode menjadi lebih egaliter, rok pun semakin memendek, stoking berbahan sutra menjadi simbol kemakmuran, sepatu tutup menggantikan bot, dan pakaian dalam pun menjadi lebih sederhana.

Setelah Perang Dunia I, perempuan tak mau lagi kembali ke masa sebelumnya. Kebebasan, kehidupan publik, lebih menarik untuk perempuan yang kemudian memilih rambut berpotongan pendek, menikmati olahraga luar ruang, dan menikmati dansa modern serta aktivitas nondomestik lainnya. Tren ini terus berlangsung hingga kini dan ke depan untuk waktu yang setidaknya berani kita prediksikan.

KARYA para siswa Esmod yang ditampilkan Senin petang pekan lalu mencoba mewakili perubahan gaya hidup pada era yang dijadikan tema pergelaran. Baju dalam (petticoat) yang menjadi keharusan pada pakaian perempuan era akhir abad ke-19 diolah hingga menjadi gaun pendek yang memberi nuansa gembira.

Baju karier yang menandai era emansipasi perempuan dengan memasuki lapangan-lapangan kerja di sektor publik pada awalnya mengimitasi pakaian laki-laki karena perempuan masih menganggap untuk menjadi sukses harus menjadi seperti laki-laki. Tetapi, kemudian perempuan menyadari bahwa sifat-sifat kewanitaan mereka bukanlah inferior dibandingkan maskulinitas laki-laki sehingga perempuan tak ragu-ragu menggunakan bahan renda untuk pakaian kerja. Pakaian dalam (lingerie) yang menonjolkan sensualitas perempuan pun tak tabu ditampilkan sebagai pakaian sehari-hari, sementara celana panjang diadopsi karena sifatnya yang praktis untuk mengakomodasi kesibukan seorang perempuan urban.

Sayangnya, pergelaran ini hanya mengonsentrasikan diri pada busana perempuan. alasan tentang fokus pada busana perempuan, yaitu perubahan busana laki- laki tidak semencolok perubahan pada busana perempuan.

Padahal, busana laki-laki pun ikut mengalami perubahan meskipun tidak sedramatis busana perempuan. Dari yang penuh detail dan kegenitan pada masa pra-abad ke-20 ke gaya yang lebih kaku pada abad ke-20, dan menjadi lebih longgar ketika waktu bergulir menuju abad ke-21. Apa pun, menyaksikan perjalanan mode adalah melihat perubahan semangat zaman sebuah masyarakat. Tidak heran bila Jany Bourdais menyebut mode adalah bagian dari kebudayaan, sekalipun kebudayaan itu barangkali bersifat pop

KITA punya perancang-perancang berbakat, beberapa memiliki pengaruh pada dunia mode. Lima belas di antaranya tampil bersama dalam sebuah peragaan kolektif berjudul “Parade 15 Desainer Indonesia” dalam Festival Mode 2007.

Acara ini diadakan oleh Femina Group selama dua hari awal September lalu di Blitz Megaplex, Jakarta. Beberapa perancang yang tampil adalah Sebastian Gunawan, Didi Budiardjo, Edward Hutabarat, Adrian Gan, Denny Wirawan, Musa Widyatmodjo, Stephanus Hamy, Deden Siswanto, Ronald V Gaghana, dan Ghea Panggabean.Mereka bagian dari aset industri mode saat ini,yang terus berkarya dan punya pelanggan tetap, serta konsumen pemakai karya.

Kehadiran mereka jelas perlu dirayakan. Tidak saja karena telah memberi karakter pada mode Indonesia, mereka juga menyumbang kontribusi besar sebagai penggerak mode.Kemajuan itu juga tidak lepas dari peran media cetak yang memberi tempat pada karya perancang Indonesia untuk dipublikasikan secara luas dan dukungan dalam bentuk aktivitas lain.

Media mensponsori peragaan perancang, juga memberi jalan pada generasi baru untuk tampil sebagai perancang muda lewat lomba. Selain itu, karier perancang muda dihargai lewat pemberian penghargaan. Kita menyadari, kalau melihat pusat belanja, mal sampai ITC, produk busana dikuasai oleh merek perancang ternama dunia dan produsen pakaian dari Asia, seperti China, Korea, Bangkok.

Di tengah persaingan itu, mode Indonesia mencoba untuk terus mengalir seperti air. Para perancang punya jalan sendiri saat dihadang pesaing. Caranya menghidupkan sistem rancangan pesanan dan membuat promosi berupa peragaan busana. Bahkan, profesi perancang terus diminati kaum muda. Mereka menampilkan diri sebagai perancang dengan cara berbeda untuk masuk industri mode dan menjadi generasi baru. Sebagian dengan cara sendiri.

Lainnya lewat kompetisi mode,seperti Lomba Perancang Mode (LPM) yang digelar dalam acara itu. Lomba yang diprakarsai Femina Group itu dimulai sejak 1979.Kini diikuti hampir 400 peserta dengan umur rata-rata 22 tahun. Jauh lebih muda dibandingkan tahun- tahun sebelumnya. Untuk bersaing, mereka membekali diri dengan pendidikan mode.

Regenerasi perancang kelihatan akan terus berjalan. Untuk memberi semangat dan perhatian,sekaligus bentuk apresiasi bagi upaya desainer muda,untuk pertama kalinya Pia Alisjahbana Fashion Award diberikan kepada perancang muda berpotensi yang telah merintis karier setidaknya lima tahun, memiliki usaha, dan punya karakter pada rancangannya. Pia Alisjahbana sendiri dikenal sebagai “Ibu Penggerak Mode” karena upayanya selama ini dalam mendukung para perancang Indonesia.

Dia juga pernah menerima penghargaan sebagai fashion icon dunia penerbitan dalam acara Jakarta Fashion Food Festival 2007 lalu. Semua itu akan menjadi bagian dari sejarah mode kita. Sejarah mode Indonesia sendiri dimulai pada 1953 ketika Peter Sie

kembali dari Belanda setelah belajar mode dan menjadi perancang.

Perjalanan mode itu dapat dilihat pada pameran “Retrospeksi Mode Indonesia” yang digelar dalam kesempatan tersebut. Mode Indonesia dibagi dalam tiga babak besar. Dimulai era pionir (1950–970) yang mencetuskan profesi perancang, gaun batik sebagai busana modern, dan gaya pakaian adi busana. Berlanjut era baru (1980–2000) yang melahirkan industri busana siap pakai, pemakaian tekstil, dan unsur tradisional secara luas, seperti tenun dan bordir.

Berakhir dengan era milenia (2000 sampai kini) yang menampilkan gaya mode global dengan gaun glamor dan gemerlap sebagai ciri. Bahkan, British Council merasa perlu menggandeng grup media itu untuk memilih wirausahawan mode Indonesia dalam ajang The International Young Creative Entrepreneur of the Year Award – Fashion 2007.Pemenangnya, yang diumumkan dalam acara itu, akan dipertandingkan di tingkat internasional dalam London Fashion Week, Oktober mendatang.

Berbagai aspek yang dihadirkan dalam Festival Mode 2007 itu memperlihatkan peran serta media dalam perkembangan mode di Tanah Air. Akhir tahun lalu, majalah Harper’s Bazaar Indonesia juga menggelar sebuah peragaan akbar yang memberi kesempatan pada beberapa perancang untuk menampilkan karya terbaiknya.

Acara itu rutin digelar sebagai dukungan pada kemajuan mode Indonesia, selain dalam bentuk tulisan dan foto mode karya perancang yang ditampilkan dalam media cetak. Bila melihat kondisi isi banyak media cetak belakangan ini,yang lebih memberi porsi besar pada liputan dan penampilan karya perancang dunia,acara seperti perayaan mode Indonesia yang digelar Femina Group itu memberi rasa optimistis.

Mode Indonesia mendapat apresiasi dan perhatian besar dari media, yang kita kenal merupakan jembatan emas yang menghubungi dunia mode dan masyarakat penikmatnya. Seperti yang kita ketahui juga, media mempunyai kekuatan besar untuk memengaruhi pembacanya.

Bahan Perempuan Yang Sangat Perempuan

“Maybe the naked truth is glorious, but I like a bit of chiffon here and there,” kata Ernie Janis dalam What Should I Wear.

60an :

Waktu kecil, ABG saja belum, saya sering melihat Ibu melilit lehernya dengan sepotong kain kalau akan ke luar rumah.Saya tidak tahu nama kain itu. Baru kemudian mengenalnya sebagai scarf. Saya hanya perhatikan scarf itu terbuat dari bahan bagus. Tipis, halus, enak dipegang. Beda dengan baju katun dan celana dril yang saya pakai setiap hari ke sekolah.

Entah di tahun kapan, saya ‘ngeh’ kalau bahan tipis itu namanya chiffon, yang diindonesiakan menjadi ‘sifon’. Pada waktu mulai takjub pada ensiklopedi, yang saya anggap ‘buku yang tau segala’, saya cari artinya. Giorgiana O’Hara, pembuat The Encyclopedia of Fashion, memberi deskripsi begini.

Chiffon : bahan ringan, halus, tipis, tembus pandang, yang diciptakan dari benang melintir yang rapat sekali. Bisa terbuat dari serat sutra, wol atau sintetis. Khususnya dipakai untuk gaun malam. Scarf sifon populer di tahun 1950 dan 1960an.

Kata chiffon berasal dari bahasa Prancis. Artinya potongan kain linen atau kain lusuh yang biasa dipakai untuk lap. John M Echols dan Hassan Shadily dalam Kamus Inggris – Indonesia mendefinisikan sifon sebagai ‘semacam kain sutra yang tipis sekali’.

Columbia Encyclopedia menambahkan, sifon itu sulit diolah, tapi jatuhnya enak dan nyaman di badan. Meski ringan, tahan lama. Hanya sobek kalau tersangkut. Gampang bolong kalau tersundut rokok. Tapi coba tarik, sangat kuat. Malah bisa masuk museum rekor karena sanggup menarik gajah tanpa putus.

70an :

Begitu mulai tertarik pada mode, umur sudah pasca brondong, lagi tergila-gila rambut gondrong, saya coba-coba beli buku mode. Saya begitu terkesan dengan sebuah foto pada 100 Years of British Vogue. Marissa Berenson, aktris 70an, sedang pose memakai gaun rancangan Yves Saint Laurent. Baju itu terbuat dari bahan sifon yang tipis, tembus pandang.

Saya kagum, terbingung-bingung, heran, tidak habis pikir. Bukan karena saya bisa melihat dengan jelas tubuh aktris yang tidak pakai bra itu di balik bahan see through-nya. Saya dapat sebuah pengalaman baru. Saya belajar dari dunia yang paling cepat berubah dan penemu hal-hal tak terduga itu. Mode ternyata sanggup memutarbalikkan pandangan orang.

Bayangkan saja. Busana yang awalnya diciptakan untuk menutupi tubuh, sekarang malah dirancang untuk ‘menelanjangi” pemakainya lewat bahan sifon. Benar-benar kontroversial !

Ada rasa seksi saat perempuan memakai baju sifon. “Sifon itu seperti ilusionis yang membuat pemakai seolah nudis, padahal masih tertutup busana,” kata Kim Johnson Gross.

Sejarah mode tidak mencatat siapa pionir sifon. Paling tidak pelukis Boticceli, tahun 1482, melukis wanita dengan gaun tipis. Tapi banyak ahli menduga sifon sudah dipakai Salome untuk mengintrik laki-laki Sebelum Masehi. Sampai akhir 50an, sifon lebih banyak dirancang untuk gaun-gaun istimewa para raja, bangsawan, wanita kelas atas atau aktris Holywwod. Baru tahun 1968, Yves Saint Laurent pertama kali membuat busana siap pakai dari sifon untuk baju sehari-hari kaum perempuan.

80an :

Jaman Madonna baru muncul saya bertemu lagi dengan sifon. Waktu itu saya sudah masuk dunia mode, jadi redaktur mode. Mode Indonesia baru tumbuh. Banyak perancang memanfaatkan kain tradisional dan tekstil dalam negeri. Tiba-tiba datang Biyan, pulang dari belajar mode di Jerman. Di tengah gaya etnik dan gaun klasik, dia bawa gaya kontemporer dengan bahan sifon. Sifon dilipit-lipit, pleats, jadi gaun sampai celana panjang dengan gaya diskonstruktif ala perancang Jepang. Sifon jadi fenomena baru di tanah air.

90an :

Sifon itu susah digunting dan dijahit karena bahannya tipis sekali dan gampang tergelincir. Bekas lubang jarumnya selalu kelihatan. Untuk dijahit lurus saja bisa miring-miring. Dipotong lurus juga susah setengah mati. Jadi bayangkan bagaimana hebatnya John Galliano waktu tahun 90an memperkenalkan gaun sifon justru dengan bias cut, potongan serong. Gaun tali bahu sifon itu ditiru di mana-mana dan jadi mode sampai sekarang.

Milenium 3 :

Sifon benar-benar tidak ada matinya. Di milenium baru jadi mode lagi. Sekali ini saya terkesan melihat koleksi perancang Eddy Betty dalam peragaan tunggalnya 2001. Bahan sifon yang halus, indah itu malah digunting jadi perca. Ujung gaun sifonnya sengaja tidak dijahit. Benangnya dibiarkan menjuntai-juntai. Unfinished, istilahnya. Sifon muncul dengan bentuk baru lagi.

Dalam kesempatan lain, saya menonton peragaan seorang perancang muda. Gaunnnya menarik. Sifon dipotong jadi lembaran panjang dan dijalin seperti ketupat. Sayang jatuhnya tidak bagus. Seorang perancang senior bilang pada saya. Itu karena dia pakai sifon murah. Dan kalau mau pakai efek kerlip, jangan taruh manik di atas sifon. Berat, jadi jatuhnya tidak bagus. Pakai kristal harusnya.

Dari situ saya belajar. Sifon itu disukai karena indah, tapi untuk mengendalikannya tidak segampang membalik telapak tangan.

Sifon bagus biasanya buatan Eropa. Untuk menandai kebagusannya, lihat saja efek motif fatamorgana yang berbentuk serat kayu saat kain itu dibentang.

Karena halus, paling aman bawa saja ke laundry untuk mencucinya.

Tahun 2004 sifon jadi mode lagi. “80% persen orang mode saat ini pakai sifon,” kata Sebastian Gunawan. Akhirnya saya pikir sifon itu seperti legenda tekstil. Jadi pembicaran terus sepanjang masa.

Bisa jadi banyak perempuan suka sifon karena sifat bahan itu sangat perempuan. Kelihatan halus, ringkih, tapi kuat. “Baju sifon kesannya lebih pure. Sifat bahannya melambai, seperti peri, dongeng,” kata Sebastian lagi. Juga seperti bunglon, bisa kelihatan seksi atau polos. Atau malah sekaligus gabungan keduanya, tambah saya.

Untungnya sifon hanya populer buat perempuan. Biar pun suatu saat saya masuk Selebriti Fitness Center, yang lagi ramai seperti pasar malam itu, dan saya berhasil membuat otot dada saya jadi ‘ngok’ seperti Ade Rai, tetap saja tidak terbayang saya akan memakai kemeja sifon. Bukannya risi memamerkan badan. Cuma takut jangan-jangan nanti masuk angin.

Mode Pria di Masa Elizabeth I dan di Era 1920-an

Pada periode Elizabeth I, penampilan busana sangat berbeda dari gaya kontemporer. Ketika itu pemakaian celana ketat bagi lelaki sangat tidak umum, apalagi dengan berdandan atau memakai perhiasan.
Suatu tren yang disebut ”slashing” bermula di Italia dan menyebar ke seluruh Eropa dengan sangat cepat. Tren ini menampilkan celah potongan bagus pada pakaian luar, dan berdaya tarik di bawahan garmen yang bercorak kontras. Menunjukkan kepintaran secara individu. Sayangnya, materi linen yang bermutu masih sulit untuk diperoleh. Model kostum ini diyakini pertama kali dipakai oleh para tentara sewaan.
Saat itu ornamentasi menjadi tren yang meluas, sekalipun baju belum bisa dicuci. Sabun baru mulai diproduksi di London pada tahun 1524. Masih terbilang mahal harganya, dan tidak bisa dipakai untuk baju bermateri sutra.
Bisnis pencucian mulai mencapai puncaknya di tahun 1550, ketika orang mulai bergaya dengan kerah ruffle linen. Style modis ini berupa pengembangan alami format hias frill yang bertali mengikat di bagian leher kemeja lelaki.
Di Inggris, model kerah biasanya selebar delapan inci dan membuka ke muka. Kerah ruffle yang kaku dan tegak, pertama kali diperkenalkan oleh istri staf pengajar di Kerajaan Inggris, nyonya Dingham. Dia membuat model kerah sedikit lebih lebar. Pria dan wanita mengenakan kerah ruffle sebagai simbolisasi kelas sosial paling tinggi.
Namun model tersebut menjadi problem dalam hal kepantasan, sebagai contoh adalah Kardinal Richelieu dari Prancis.Busana yang dikenakannya bisa membuat orang lain iri. Semua pemakai busana indah ini menggunakannya buat ke pesta, dan seakan tak mampu bergerak karena bajunya terlalu kaku atau berhiasan permata sangat berat.
Sepatu lars bahkan berpenampilan sangat aneh di abad ke-17. Begitu tingginya sampai mencapai paha, dibuat dari kulit kualitas dan berdekorasi ornamen di bagian atasnya, berhias ruffles dan permata. Sebagian lars menukik di ujung jari, yang membuatnya hampir tak mungkin dipakai berjalan.
Untuk segala busana panjang, kerah ruffle, dan rambut panjangnya, lelaki di masa itu dikenal mudah marah dan berkesan galak demi wibawanya.Meski di mata orang modern, baju di masa itu terlihat feminin, sambil biasanya membawa perlengkapan pedang dan anggar tajam yang menggantung di ikat pinggang.
Busana di masa itu mempertimbangkan nuansa kesenian. Namun busana di masa itu bukan menjadi urusan utama, itulah alasan kenapa lelaki di saat itu memakai busana.

Menarik Perhatian
Sejarah mode makin menarik perhatian sejak berakhirnya Perang Dunia I (era awal 1920-an), dengan pemakaian setelan kostum manis, corak warna hem yang sesuai selera, seperti persik, biru keabuan dan cedar. Dilengkapi dasi sutra dalam pola geometris atau bergaris diagonal yang disemat hias penjepit. Paduan ensambel bergaya itu komplet dengan topi peboling hitam.
Jas berekor cocok dipakai bagi kebutuhan formal di malam hari, disertai topi tinggi berbahan sutra. Hem berkerah putih dengan tindasan lipit serasi dipakai bersama jas berekor, begitupun dengan dasi kupu-kupu dan kemeja dengan kerah putih bersayap. Tuksedo menaik popularitasnya, namun tak cocok dipakai di sembarang pesta.
Sepatu kulit hitam popular selama era ini, dan sering muncul bersama pakaian formal untuk malam hari. Demikian pula dengan sepatu gaya bertali yang begitu banyaknya pemesan.
Celana-celana tanggung juga berkembang menjadi popular saat itu, dengan berbagai variasi yang ngegantung di bawah lutut. Paduannya dirasakan cocok dengan mantel Norfolk atau mantel pegolf, berikut tambahan sepatu atau lars yang saling berkoordinasi.
Era awal pemunculan celana baggy berlangsung tahun 1925. Gaya modis ini mempengaruhi cara berpakaian pria selama tiga dekade.
Pantalon yang dibuat dari cita pelanel asli hadir dalam corak biskit, perak abu-abu, lovat, biru keabuan, dan pearl gray.
Tren kostum jazz keluar dan masuk di dalam gejolak fashion di sepanjang 1920-an. Setelan kostum ini berpotongan ketat yang memberi kesan ekspresi semangat dari musik jazz. Penampilan pantalon di era ini adalah ketat berpipa.
Baju berbahan wol menjadi popular di saat itu. Kata ”tweed” adalah varian bahasa Inggris dari kata ” tweel” (Skotlandia). Tweel terbuat dari tekstil wol tenun tangan yang berasal dari perbukitan dan pulau di Skotlandia. Nama itu terkait dengan Sungai Tweed yang berada di bagian perbatasan Inggris dan Skotlandia.
Flannel atau cita pelanel adalah tekstil popular lain yang muncul dari era ini. Kata flannel mungkin diambil dari asalan kata Wales, ”gwalnen”, yang artinya kain wol. Dengan berciri tebal, nyaman, lunak dan berbulu. Kelabu adalah warna yang terpopular. Warna favorit lainnya adalah putih, abu kecokelatan dan garis-garis. Pantalon flannel dipakai mentradisi di dalam cuaca yang menghangat.
(jjs/dari berbagai sumber)

Bikini: Kisahnya tidak mini

bikini

Ursula Andress mengatakan rahasia suksesnya adalah bikini Dr No

Mungkin persoalannya remeh, tetapi tak diragukan lagi bikini berdampak besar terhadap budaya pop, mengubah dunia mode seperti beberapa pakaian lainnya.

Bikini seperti yang kita kenal sekarang, sudah berusia 60 pada 5 Juli. Ia memicu skandal, menyingkirkan berbagai mode, dielu-elukan sebagai hal yang membantu emansipasi wanita, dan dicela karena menjadikan wanita sebagai obyek birahi.

Para pemakainya masuk dalam legenda, menjadi lambang kebudayaan Abad ke-20.

Siapa yang bisa melupakan momen Dr No 1962 ketika Ursula Andress, sebagai Cewek Bond Honeychile Rider, muncul dari laut dengan bikini putih dengan belati tersandang pada sabuk lebar. Model ini diulangi 40 tahun kemudian oleh Halle Berry dalam film James Bond, Die Another Day.

Pada tahun 2001, bikini Dr No terjual dalam lelang seharga 61.500 dollar.

Kemudian muncul Brigitte Bardot yang membuat jantung menjadi kencang sewaktu dia tampil dalam bikini di tahun 1957 dalam film And God Created Woman. Lalu, bikini kulit hewan yang dipakai Raquel Welch dalam film One Million Years BC membuat dia menjadi langsung termashur.

Ekspresi wanita

Secara historis, bikini sudah berusia lebih 1.700 tahun menurut ukiran mosaik yang berasal dari tahun 300 SM di Villa Romana del Casale di Sisilia, yang menggambarkan gadis-gadis sedang bersenam dalam pakain bikini.

Tetapi bikini baru dipanuti menjadi mode pada akhir 1950-an.

bikini

Penampilan Ursula Andress dalam Dr No begitu kuat menarik minat sehingga diulangi oleh Halle Berry

Bikini menjadi simbol ekspresi wanita, kata penulis Amerika dan mantan model Kelly Killoren Bensimon, yang menulis The Bikini Book untuk merayakan hari lahirnya.

"Pakaian mini ini betul-betul membuat orang percaya diri," katanya kepada situs berita BBC News. "Bikini adalah lambang kebebasan. Di situ juga ada rasa senang dan gaya hidup."

Nona Bensimon mengatakan bikini bisa bertahan lama karena kemunculan pertama yang membuat kehebohan.

"Bikini dikaitkan dengan skandal dan itulah sebabnya mengapa bisa bertahan," katanya.

Tentu saja pakaian dua potong itu cukup berat meyakinkan publik bahwa ia pantas dipakai oleh wanita "yang baik-baik".

Diciptakan oleh teknisi

"Le bikini", pakaian empat segitiga yang dibuat hanya dari kain 30 inci, membuat debutnnya di Paris pada tahun 1946. Karena tidak bisa menemukan orang yang akan memakainya, pencipta bikini, Louis Reard, meminta seorang penari bugil untuk difoto.

bikini

Brigitte Bardot menimbulkan keonaran di Prancis karena "le bikini"

Reard adalah seorang insinyur Perancis tetapi pada pertengan 1940-an dia menjalankan bisnis pakaian yang dirintis ibunya.

Ia melihat para wanita di pantai St Tropez menyinsing pakaian mandi supaya bisa disirami matahari lebih banyak lagi. Dia dan perancang mode Perancis, Jaques Heim, bersainmg untuk menghasilkan pakaian renang yang paling kecil di dunia. Sementara pakaian dua-potong Heim merupakan yang pertama dipakain di pantai, tetapi Reard-lah yang membuat bikini menjadi nama yang selalu diingat.

Dilarang

Bikini memang memicu sensasi -- tetapi tidak banyak wanita yang mau memakainya. Salah satu persoalan besarnya adalah bahwa bikini menampakkan pusar dan hal ini tidak disukai.

Sampai kemudian Brigitte Bardot membuat Perancis menjadi gila dan St Tropez diserbu oleh wanita dalam pakaian minim itu.

Tetapi Amerika yang konservatif tidak bisa menerima. Di sana, majalah Modern Girl mengejek: "Tidak perlu banyak berdebat soal bikini karena memang tidak mungkin kalau gadis yang baik dan terhormat akan memakai benda seperti itu."

Namun demikian, begitu revolusi seksual berlangsung di tahun 1960-an, bikini pun semakin digemari -- kecuali di negara-negara Katholik yang melarang pakaian mini itu.

Bikini semakin diterima dan memberikan sumbangsihnya sendiri kepada perubahan hubungan antara pria dan wanita.

Masih populer

Pakar sejarah mode Perancis, Olivier Saillard, mengatakan bikini masih tetap laris karena "kekuatan wanita, bukan kekuatan mode".

"Emansipasi pakaian renang selalu terkait dengan emansipasi wanita," katanya kepada kantor berita AFP.

Pada tahun 1980-an, popularitas bikini merosot tajam. Akan tetapi sekarang kembali menguat lagi. Perusahaan riset pasar yang berpusat di Amerika Serikat, NPD Group, melaporkan penjualan pakaian renang minim itu di seluruh Amerika meningkat 80% dalam dua tahun.

Beberapa Alternatif

1. Menjadi wirausahawan mandiri

Untuk menjadi seorang wirausahawan mandiri, berbagai jenis modal mesti dimiliki. Ada 3 jenis modal utama yang menjadi syarat: (1) sumber daya internal yang merupakan bagian dari pribadi calon wirausahawan misalnya kepintaran, ketrampilan, kemampuan menganalisa dan menghitung risiko, keberanian atau visi jauh ke depan. (2) sumber daya eksternal, misalnya uang yang cukup untuk membiayai modal usaha dan modal kerja, social network dan jalur demand/supply, dan lain sebagainya. (3) faktor X, misalnya kesempatan dan keberuntungan. Seorang calon usahawan harus menghitung dengan seksama apakah ke-3 sumber daya ini ia miliki sebagai modal. Jika faktor-faktor itu dimilikinya, maka ia akan merasa optimis dan keputusan untuk membuat mimpi itu menjadi tunas-tunas kenyataan sebagai wirausahawan mandiri boleh mulai dipertimbangkan

2. Mencari mitra dengan “mimpi” serupa.

Jika 1 atau 2 jenis sumber daya tidak dimiliki, seorang calon wirausahawan bisa mencari partner/rekanan untuk membuat mimpi-mimpi itu jadi kenyataan. Rekanan yang ideal adalah rekanan yang memiliki sumber daya yang tidak dimilikinya sendiri sehingga ada keseimbangan “modal/sumber daya” di antara mereka. Umumnya kerabat dan teman dekatlah yang dijadikan prospective partner yang utama sebelum mempertimbangkan pihak lainnya, seperti beberapa jenis institusi finansial diantaranya bank.

Pilihan jenis mitra memiliki resiko tersendiri. Resiko terbesar yang harus dihadapi ketika berpartner dengan teman dekat adalah dipertaruhkannya persahabatan demi bisnis. Tidak sedikit keputusan bisnis mesti dibuat dengan profesionalisme tinggi dan menyebabkan persahabatan menjadi retak atau bahkan rusak. Jenis mitra bisnis lainnya adalah anggota keluarga; risiko yang dihadapi tidak banyak berbeda dengan teman dekat. Namun, bukan berarti bermitra dengan mereka tidak dapat dilakukan. Satu hal yang penting adalah memperhitungkan dan membicarakan semua risiko secara terbuka sebelum kerjasama bisnis dimulai sehingga jika konflik tidak dapat dihindarkan, maka sudah terbayang bagaimana cara menyelesaikannya sejak dini sebelum merusak bisnis itu sendiri.

Mitra bisnis lain yang lebih netral adalah bank atau institusi keuangan lainnya terutama jika modal menjadi masalah utama. Pinjaman pada bank dinilai lebih aman karena bank bisa membantu kita melihat secara makro apakah bisnis kita itu akan mengalami hambatan. Bank yang baik wajib melakukan inspeksi dan memeriksa studi kelayakan (feasibility study) yang kita ajukan. Penolakan dari bank dengan alasan “tidak feasible” bisa merupakan feedback yang baik, apalagi jika kita bisa mendiskusikan dengan bagian kredit bank mengenai elemen apa saja yang dinilai “tidak feasible”. Bank juga bisa membantu kita untuk memantau kegiatan usaha setiap tahun dan jika memang ada kesulitan di dalam perusahaan, bank akan mempertimbangkan untuk tidak meneruskan pinjamannya. Ini merupakan “warning” dan kontrol yang bisa menyadarkan kita untuk segera berbenah. Wirausahawan yang “memaksakan” bank untuk memberi pinjaman tanpa studi kelayakan yang obyektif dan benar akhirnya sering mengalami masalah yang lebih parah. Agunan (jaminan) disita, perusahaan tidak jalan, dan hilanglah harapan untuk membuat mimpi indah menjadi kenyataan. Kejadian seperti ini sudah sangat sering terjadi, dalam skala kecil maupun skala nasional. Pinjaman seringkali melanggar perhitungan normal yang semestinya diterapkan oleh bank sehingga ketika situasi ekonomi tidak mendukung, sendi perekonomian mikro dan makro pun turut terbawa jatuh.

3. Menjual mimpi itu kepada wirausawahan lain (pemilik modal)

Jika teman atau kerabat yang bisa diajak bekerjasama tidak tersedia (entah karena kita lebih menghargai hubungan kekerabatan atau persahabatan atau karena memang mereka tidak dalam posisi untuk membantu) dan tidak ada agunan yang bisa dijadikan jaminan untuk memulai usaha anda, ada cara lain yang lebih drastis, yaitu menjual ide atau mimpi indah itu kepada pemilik modal. Kesepakatan mengenai bagaimana bentuk kerjasama bisa di lakukan antara si pemilik modal dan penjual ide. Bisa saja pemilik modal yang memodali dan penjual ide yang menjalankan usaha itu, bisa juga penjual ide hanya menjual idenya dan tidak lagi terlibat dalam usaha itu. Jalan ini biasanya diambil sesudah cara lainnya tidak lagi memungkinkan sedangkan ide yang kita miliki memang sangat layak diperhitungkan.

Ketiga cara di atas selayaknya dipikirkan sebelum seseorang mengambil keputusan untuk menjadi wirausahawan. Tanpa pemikiran mendalam, pengalaman pahit akan menjadi makanan kita. Banyak usaha yang akhirnya gulung tikar sebelum berkembang. Contohnya, pada tahun 1998, penduduk Jakarta tentu masih ingat akan trend “kafe tenda” sebagai reaksi atas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang saat itu banyak terjadi. Tiba-tiba saja banyak mantan karyawan perusahaan beralih profesi menjadi wirausahawan. Bahkan usaha tersebut ramai-ramai diikuti oleh pula oleh para selebritis. Trend ini tidak mampu bertahan lama. Banyak “usaha dadakan” ini terpaksa gulung tikar. Entah kemana para wirausahawan baru kita ini akhirnya menggantungkan nasibnya sekarang.

Mentalitas Wirausahawan: Mitos atau Realita?

Untuk mewujudkan mimpi menjadi seorang wirausahawan yang sukses memang diperlukan berbagai faktor pendukung. Selain modal (sumber daya seperti tersebut di atas), masih ada faktor lain yang merupakan syarat untuk keberhasilan seorang wirausahawan. Banyak yang mengatakan “mental” atau “bakat”; dalam bahasa umum “bakat dagang”, merupakan salah satu diantara faktor tersebut. Meskipun belum banyak penelitian ilmiah mengenai mental atau kepribadian wirausahawan, namun ada beberapa fakta maupun asumsi yang bisa menerangkan bahwa memang ada perbedaan karakter antara wirausahawan dengan non-wirausahawan. Bisa saja perbedaan itu tumbuh karena kebiasaan atau pengaruh lingkungan sehingga menjadi karakter yang menetap dalam kepribadian seseorang

Bagi pengikut aliran non-deterministic, bakat dagang mungkin lebih bisa diterima sebagai sebuah mitos, sebab sulit untuk mengatakan bahwa seorang bayi memiliki “in-born entrepreneurship trait”. Lebih logis bila mengasumsikan bahwa “bakat dagang” yang dimitoskan mungkin merupakan kumpulan dari kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dimiliki oleh wirausahawan lewat proses pembelajaran sejak dini. Kebiasaan ini disosialisasikan dan dikondisikan secara konstan kepada individu atau kelompok tertentu sehingga menjadi ciri karakter yang kuat dan mengakar di dalam mereka. Sebagian dari kebiasaan itu adalah:

· menghitung untung rugi setiap tindakan/keputusan yang diambil

· melihat peluang dan menganalisis kebutuhan pasar

· mengelola sumber daya (planning, organizing, directing, controlling)

· bekerja keras secara konstan dan mencari solusi bagi masalahnya

· kebiasaan “jatuh-bangun” sehingga tidak lagi takut membuat keputusan

Selain faktor kebiasaan di atas, masih banyak faktor lain yang turut menentukan apakah seseorang bisa menjadi seorang wirausahawan yang sukses. Beberapa di antaranya adalah:

1. Kreatif dan Inovatif

Seorang wirausahawan umumnya memiliki daya kreasi dan inovasi yang lebih dari non-wirausahawan. Hal-hal yang belum terpikirkan oleh orang lain sudah terpikirkan olehnya dan dia mampu membuat hasil inovasinya itu menjadi “demand”. Contohnya: Menjelang tahun 2000, ada sekelompok orang yang menjadi “kaya raya” karena mereka berhasil menjual ide “the millenium bug”. Puluhan juta dollar bergulir di industri komputer dan teknologi hanya karena ide ini. Software baru, jasa konsultasi teknologi komputer bahkan Hollywood pun berhasil membuat ide ini menjadi industri hiburan yang menghasilkan puluhan juta dollar. Film “The Entrapment” adalah salah satu hasilnya. Contoh lainnya yang sederhana adalah pengemasan air minum steril kedalam botol sehingga air bisa diminum langsung tanpa dimasak. Banyak sekali contoh lain yang menunjukkan bahwa kreatifitas dan inovasi adalah salah satu faktor yang bisa membawa seseorang menjadi wirausahawan sukses. Perlu diingat bahwa kreatifitas dan inovasi bukan merupakan satu-satunya faktor penentu karena artispun harus memiliki kedua faktor ini sebagai penentu kesuksesannya.

2. Confident, Tegar dan Ulet

Wirausahawan yang berhasil umumnya memiliki rasa percaya diri yang tinggi, tegar dan sangat ulet. Ia tidak mudah putus asa, bahkan mungkin tidak pernah putus asa. Masalah akan dihadapinya dan bukan dihindari. Jika ia membuat salah perhitungan, saat ia sadar akan kesalahannya, ia secara otomatis juga memikirkan cara untuk membayar kesalahan itu atau membuatnya menjadi keuntungan. Ia tidak akan berhenti memikirkan jalan keluar walaupun bagi orang lain, jalan keluar sudah buntu. Kegagalan akan dibuatnya menjadi pelajaran dan pengalaman yang mahal. Semangatnya tidak pernah luntur; ada saja yang membuatnya bisa berpikir positif demi keuntungan yang dikejarnya. Kualitas kepribadian seperti ini tidak mungkin tumbuh secara mendadak. Keuletan, ketegaran dan rasa percaya diri tumbuh sejak dini (usia balita) dan sudah menjadi karakter atau dasar kepribadiannya. Sulit (bukan tidak mungkin) bagi seorang dewasa membentuk kualitas-kualitas ini jika tidak dimulai sejak masa balita.

3. Pekerja Keras

Waktu kerja bagi seorang wirausahawan tidak ditentukan oleh jam kerja. Saat ia sadar dari bangun tidurnya, pikirannya sudah bekerja membuat rencana, menyusun strategi atau memecahkan masalah. Kadang dalam tidurnyapun ia tetap berpikir. Membiarkan waktu berlalu tanpa ada yang dipikirkan atau dikerjakan kadang membuatnya merasa “tidak produktif” atau merasa kehilangan kesempatan.

4. Pola Pikir Multi-tasking

Seorang wirausahawan sejati mampu melihat sesuatu dalam perspektif/dimensi yang berlainan pada satu waktu (multi-dimensional information processing capacity). Bahkan ia juga mampu melakukan “multi-tasking” (melakukan beberapa hal sekaligus). Kemampuan inilah yang membuatnya piawai dalam menangani berbagai persoalan yang dihadapi oleh perusahaan. Semakin tinggi kemampuan seorang wirausahawan dalam multi-tasking, semakin besar pula kemungkinan untuk mengolah peluang menjadi sumber daya produktif

5. Mampu Menahan Nafsu untuk Cepat Menjadi Kaya

Wirausahawan yang bijak biasanya hemat dan sangat berhati-hati dalam menggunakan uangnya terutama jika ia dalam tahap awal usahanya. Setiap pengeluaran untuk keperluan pribadi dipikirkannya secara serius sebab ia sadar bahwa sewaktu-waktu uang yang ada akan diperlukan untuk modal usaha atau modal kerja. Keuntungan tidak selalu menetap, kadang ia harus merugi dan perusahaan harus tetap dipertahankan. Oleh sebab itu, jika ia memiliki keuntungan 10, hanya sepersekian yang digunakan untuk keperluan pribadinya. Sebagian besar disimpannya untuk digunakan bagi kemajuan usahanya atau untuk tabungan jika ia terpaksa mengalami kerugian

Wirausahawan yang bijak juga mengerti bahwa membangun sebuah perusahaan yang kokoh dan mapan memerlukan waktu bertahun-tahun bahkan tidak jarang belasan atau puluhan tahun. Seorang wirausahawan yang memulai usahanya dari skala yang kecil hingga menjadi besar akan mampu menahan nafsu konsumtifnya. Baginya, pengeluaran yang tidak menghasilkan akan dianggap sebagai sebuah kemewahan. Jika tabungannya tidak cukup untuk membeli kemewahan itu, dia akan menahan diri sampai tabungannya jauh berlebih. Ia juga menghargai keuntungan yang sedikit demi sedikit dikumpulkannya. Keuntungan itu diinvestasikannya ke dalam usaha lainnya sehingga lama-kelamaan hartanya bertambah banyak. Dalam hal ini memang ada benarnya pepatah yang mengatakan: “hemat pangkal kaya”.

Sebaliknya, wirausahawan yang tidak bijak seringkali tidak dapat menahan nafsu konsumtif. Keuntungan dihabiskan untuk berbagai jenis kemewahan dan hal yang tidak produktif sehingga tidak ada lagi tabungan untuk perluasan perusahaan atau untuk bertahan pada masa sulit. Perusahaanpun tidak lama bertahan

6. Berani Mengambil Resiko

Seorang wirausahawan berani mengambil risiko. Semakin besar risiko yang diambilnya, semakin besar pula kesempatan untuk meraih keuntungan karena jumlah pemain semakin sedikit. Tentunya, risiko-risiko ini sudah harus diperhitungkan terlebih dahulu. (Lihat artikel: Risiko-Risiko Pengembangan Bisnis)

7. Faktor Lainnya

Masih banyak lagi faktor yang belum terungkap dalam artikel ini. Saya berharap para pembaca yang memiliki pengalaman lain mau membagikan pengalamannya agar dapat menjadi inspirasi bagi calon-calon wirausahawan baru. Negara kita memang sedang membutuhkan wirausahawan baru untuk membangun kembali ekonomi yang morat-marit ini.

Bagi mereka yang sudah memiliki ide dan mimpi indah, cobalah mulai berhitung. Siapa tahu anda sudah memiliki banyak faktor yang disebutkan di atas dan anda tinggal mengatakan pada diri anda:”Just try it”. Bagi anda yang merasa bahwa dunia wirausaha bukan dunia anda, jangan kecil hati….sebab anda masih bebas bermimpi. Selain mimpi itu gratis, segala sesuatu yang baru selalu dimulai dari mimpi indah. “Selamat bermimpi”.

Sepuluh Pengganjal Kebahagiaan Anda

Tulisan ini disarikan dari “Ten Roadblocks to Happiness and How to Overcome Them”. This is not a book to read. This is a philosophy to be lived. For if the principles are not applied, they will be powerless to help bring about change.

LET GO OF DEMAND

Apa sih, yang sebenarnya membuat Anda marah dan kecewa? Apakah seseorang yang memotong antrian di depan Anda? Pengemudi iseng yang memprovokasi Anda di jalanan? Komputer yang hanya untuk di-boot saja terasa begitu lama? Handphone yang harus berganti setiap bulan dua kali karena terus dicuri? Orang yang mengejek dan mempermainkan Anda? Hujan sepanjang hari? Tagihan bejibun yang membuat Anda marah sampai ke ubun-ubun?

Bukan, bukan itu semua. Apa yang membuat Anda marah dan kecewa adalah “tuntutan yang kekanak-kanakan” dan “ekspektasi yang tidak realistis”.

Saat Anda masih bayi, apa yang perlu Anda lakukan untuk mendapatkan sesuatu, hanyalah berteriak menangis sekencang-kencangnya. Dengan modal itu, Anda mendapatkan popok yang baru, susu ibu atau susu sapi, atau barang sepuluh lima belas kerokan pisang ambon untuk dinikmati.

Itulah ciri Anda saat masih helpless dulu. Waktu itu, perilaku demanding Anda masih bisa diterima. Tapi kini Anda telah dewasa. Anda bertanggung jawab pada hidup Anda, dan Anda tidak bisa lagi berharap bahwa dunia akan melayani Anda sebagaimana yang Anda mau. Jika Anda tetap melakukannya sekarang, itu namanya self-induced misery, alias penderitaan yang Anda buat sendiri. Berhentilah.

Apa yang perlu Anda lakukan sebenarnya cukup mudah. Anda hanya perlu mengganti demand dan ekspektasi, dengan preferensi.

“Aku sih nggak nuntut suamiku bangun lebih pagi, tapi aku lebih prefer kalo dia memang bisa melakukannya.”

Anda akan lebih mengerti, dan Anda akan menjadi orang yang penuh pengertian.

Buanglah Pola Pikir yang Tidak Rasional

“Saya tidak akan pernah berbahagia kecuali dunia melayani Saya seperti yang Saya mau.”

Itu tidak rasional. Apa yang bisa Anda kontrol hanyalah diri Anda sendiri.

Bersikaplah Mau Berbahagia

Disadari atau tidak, Anda mungkin tidak ingin berbahagia. Anda bisa melepaskan apapun dari diri Anda; uang, harta, waktu, energi, dan bahkan cinta, kecuali satu; penderitaan Anda.

Bahagia haruslah dimulai dari kemauan Anda sendiri. Anda mau bahagia atau tidak? Secara sadar Anda jelas mau berbahagia. Tapi cobalah selami kembali alam bawah sadar Anda. Bisa jadi, Anda sendiri yang tidak mau berbahagia.

Saat Anda merasa marah, itu penderitaan yang tidak membahagiakan. Lepaskanlah penderitaan Anda, bukan lampiaskan. Bertanyalah pada diri sendiri, “Bener nih, mau nuker happy sama kemarahan ini?” Perpanjanglah sumbu Anda supaya Anda bisa membuang penderitaan.

Berhentilah Mengasihani Diri Sendiri

Anda tidak akan menjadi pahlawan hanya dengan menderita. Adalah lebih heroik jika Anda tetap riang gembira di tengah penderitaan.

Berhentilah Membesar-besarkan

Tak perlu mem-blow-up permasalahan sampai keluar dari proporsinya. Itu akan melumpuhkan Anda. Belajarlah obyektif dan jadikanlah itu sebagai motivasi untuk mengambil tindakan.

LET GO OF REGRET

Anda pasti pernah menyesali sesuatu tentu saja. Wong kita ini manusia kok. Itu, sebenarnya versi lain dari kata-kata: “Kita tidak sempurna”.

Tak perlu panik atau terobsesi oleh penyesalan. Jadikanlah ia kekuatan positif. Anggaplah itu sebagai wakeup call, sebuah tepukan yang membangunkan Anda dari tidur. Bukankah Anda macan?

Janganlah menunda tindakan dengan penyesalan. Bertindaklah segera dan Anda tidak akan menyesal lagi, sebab Anda telah melakukan sesuatu.

Tutuplah rapat-rapat lebarnya jarak antara Anda yang ideal dan Anda yang sekarang. Nikmatilah Anda yang sekarang dan lakukan apa yang terbaik menurut Anda. Sebab jika Anda punya waktu untuk menyesal, maka Anda pasti punya waktu untuk melakukan sesuatu tentang itu.

LET GO OF GREED

“Saya telah punya semua yang saya mau, dan Saya telah menjadi apa yang Saya ingin, kecuali…”

Ya. Itulah Anda barangkali. Tidak SEMUA yang Anda mau akan Anda dapatkan.

Pertama, resources Anda terbatas. Kedua, nafsu Anda adalah sesuatu yang tidak akan pernah terpuaskan. Ia seperti air laut. Makin Anda minum, makin kering rasanya tenggorokan. Desire Anda tidak salah, melewati batasnyalah yang salah.

Sadarilah bahwa penyebab kerakusan adalah kesenangan. Bisa memiliki memang menyenangkan. Tapi kesenangan itu sendiri bisa menjadi candu. Kita sering lupa, bahwa kesenangan tidak selalu sama dengan kebahagiaan. Saat Anda menemukan bahwa kesenangan ternyata tidak sama dengan kebahagiaan, muncullah ketakutan dan kekhawatiran. Takut dan khawatir itu, akan memicu desire Anda lebih besar lagi.

Maka, Anda akan menemukan lingkaran yang abadi di sini: Karena desire Anda tidak pernah punya ujung, maka fear Anda juga tak akan pernah punya muara. Berhentilah menjadi manusia yang terpenjara!

Iya. Tapi bagaimana?

Fokus dan terapkanlah prioritas. Mulailah dahulu dengan BEING. Soal HAVING, ya belakangan sajalah. Dan untuk BEING, Anda harus DOING. Just DO your best.

LET GO OF WORRY

Anda tahu kenapa lagu “Don’t Worry - Be Happy” begitu ngetop? Karena itulah panggilan jiwa Anda.

Pahamilah perbedaan antara “menderita” dan “khawatir”. Menderita adalah pesan tentang masalah, sementara khawatir adalah pesan tentang adanya peluang untuk tumbuh dan berkembang. Jadi waspadalah. Apakah Anda memang menderita, atau sebenarnya Anda hanya khawatir saja?

Jika Anda hanya khawatir, ketahuilah bahwa sumbernya adalah ketakutan. Anda takut terhadap sesuatu yang masih gelap, blank, dan tidak tahu apa-apa tentangnya. Atau, Anda takut menghadapi tantangan.

Ketahuilah bahwa setiap detik dan setiap saat, Anda adalah benih. Benih yang mestinya bisa tumbuh menjadi besar dan hebat. Worry can’t change the past, but it can ruin the present. Berpengetahuanlah, dan bertindaklah menyambut tantangan. Seperti seekor macan.

LET GO OF DEFENSIVENESS

Salah itu normal, termasuk jika itu melukai orang lain. Bukan nyuruh nih, tapi kita semua memang pernah berbuat salah. Anda tahu kan kenapa pensil, whiteboard, dan papan tulis itu ada penghapusnya? Karena Anda adalah manusia.

Jika Anda salah apa yang Anda katakan?

“Aduhhh.. maaf nih. Maaf, namanya juga manusia.”

Lantas, apa yang Anda katakan jika orang lain yang salah?

“Dasar Bodoh!”
“Stupid!”
“Bloon.”

Saat Anda salah, Anda adalah manusia. Saat orang lain salah, mereka bukan manusia. Ini tidak rasional. Maka, maafkankanlah mereka.

LET GO OF GUILT

Guilt adalah rasa tidak nyaman saat Anda mengalami perlawanan menentang kesadaran Anda sendiri. Guilt itu sendiri tidak terlalu berbahaya. Apa yang lebih berbahaya adalah ketiadaan solusinya.

Feeling guilty itu bagus. Itu sinyal lampu merah yang memperingatkan Anda agar stay on course. Maka saat Anda feeling guilty, dengarkanlah isi hati Anda. Manakah yang Anda pilih, short-term pleasure atau long-term gain?

Rasa bersalah yang tidak menemukan solusi, akan membuat Anda mengalami ini:

1. Pikiran yang tidak damai.
2. Rasa tidak percaya dan takut pada orang lain, atau bahkan kepada Allah SWT.
3. Sesuai angka ini, Anda akan menderita tiga kali:

Pertama, saat Anda bertindak tidak bertanggung jawab. Kedua, saat Anda melihat orang lain bertindak dengan penuh tanggung jawab. Ketiga, saat Anda harus menanggung konsekuensinya.

Berikut inilah yang perlu Anda lakukan saat Anda merasa tidak bertanggung jawab.

Ingatlah bahwa responsibility, adalah singkatan dari “response-ability”. Kemampuan untuk merespon dengan tepat. Bagaimana caranya agar bisa merespon dengan tepat? Anda bisa menggunakan rumus AAA.

1. Admit. Akui bahwa pilihan tindakan Anda adalah salah.
2. Analyze. Analisis perilaku Anda. Apa alasan Anda memilih yang salah? Apa konsekuensinya? Bagaimana tidak mengulanginya? Bagaimana meluruskan pilihan yang sekarang?
3. Atonement, alias integritas. Integritas adalah menyatunya hati, jiwa, sasaran, tindakan, dan keimanan. Saat semuanya menyatu, Anda memasuki tahap atonement, alias at-one-ment.

Dengan AAA, Anda bisa memperbaiki keadaan.

LET GO OF SPITE

Anda, pasti pernah diprovokasi. Oleh pengemudi lain di jalanan, atau oleh orang lain yang mengejek dan melecehkan. Anda pasti pernah merasa diserang. Di kantor, di rumah, di lapangan sepak bola, di kantin, di mana saja.

Tidak ada perlunya Anda melayani yang begituan. Sebab, dunia Anda bisa rusak seharian. Mengalah sajalah, kecuali jika undang-undang dasar Anda yang terlanggar atau terinjak-injak.

Kita cenderung lupa bahwa kita lebih sering menggunakan hati untuk merasakan, ketimbang otak untuk berpikir. Ini sepertinya benar dan wajar. Tapi berhati-hatilah karena itu tidak logis dan tak rasional. Itu emosional.

Jika Anda merasa perlu melayani serangan, provokasi, dan ejekan orang lain, maka itu tentu ada sebabnya.

Pertama, rasa keadilan Anda yang terusik. Saat Anda merasa diserang, Anda merasa perlu membalasnya. Tapi, jika serangan itu dilakukan karena tidak sengaja, tidak dimaksudkan untuk menyerang, kesalahpahaman, atau hanya karena mereka bodoh saja, keadilan macam apa sih yang Anda inginkan?

Kedua, logika Anda yang terdistorsi. Anda berasumsi bahwa jika mereka mengalami sakit seperti yang Anda rasakan, maka mereka akan meminta maaf.

Tidak. Jikapun mereka akhirnya meminta maaf, itu bukan karena sakit yang Anda buat dengan serangan balasan, tapi karena pikiran dan hati mereka yang sudah lurus kembali. Saling menyakiti tidak akan menyelesaikan masalah. Ia bahkan memperuncingnya.

Ketiga, secara sadar atau tidak Anda mencoba menghindari tanggung jawab untuk membahagiakan diri sendiri. Sebab jika Anda memang mau bertanggungjawab untuk kebahagiaan Anda sendiri, Anda pasti tidak akan melarikan diri.

Jika begitu, bagaimana caranya memunculkan rasa tanggung jawab untuk kebahagiaan diri sendiri? Awareness-lah jawabannya.

Ketahuilah bahwa rasa sakit yang Anda derita adalah bukan karena serangan mereka, tapi karena reaksi Anda atas perilaku mereka. Mengapa mereka begitu jahat dan kejam kepada Anda? Karena mereka sedang sakit, dan mereka merasa terancam oleh Anda.

Responlah sikap buruk orang lain dengan kebaikan, maka Anda akan mulia dan terhormat. Cobalah selalu untuk bersikap rendah hati tapi bukan rendah diri.

Ketahuilah bahwa sabar itu tidak pasif. Ia tidak datang dengan sendirinya, dan ujug-ujug Anda menjadi sabar. Sabar itu kata kerja dan bukan kata sifat. Maka sabar, adalah disabar-sabarin.

LET GO OF ENVY

Anda juga mungkin pernah merasa kalah. Waspadalah. Salah-salah, kekalahan bisa membuat Anda menjadi orang yang envious, yaitu orang yang penuh dengki dan tidak bisa menerima kekalahan. Tidak senang jika orang lain senang, dan senang jika orang lain tidak senang.

Sikap envious, bisa berkembang dalam tiga tahap.

Pertama, saat Anda merasakan kekalahan. Di tingkat ini, perasaan kalah itu sebenarnya wajar. Apalagi jika Anda bisa memberi selamat kepada pemenang, dan kemudian menjadikan kekalahan sebagai pelajaran. Jika tidak bisa, maka di sinilah bibit envious Anda akan mulai tersemai.

Kedua, saat Anda mulai mengembangkan perilaku mensabotase orang lain. Mulainya dari yang kecil-kecil saja, seperti menciptakan isu dan gosip buruk, atau berharap dan “berdoa” untuk kemalangan dan kecelakaan bagi orang lain. Anda mungkin mengira ini tidak berbahaya.

Salah. Itu sangat berbahaya. Mengapa? Karena harapan buruk seperti itu adalah karatnya jiwa, persis seperti karatnya besi. Merusak, melubangi, merontokkan, dan menggerogoti semua amal baik. Lebih dari itu, dari mana sih datangnya semua tindak kejahatan? Ya dari doa, harapan, fitnah, dan pikiran negatif yang melenceng seperti itu!

Ketiga, seperti sudah disebut barusan, semuanya akan termanifestasi menjadi tindak kejahatan. Anda akan menjadi orang yang dengki, dengan sikap dan tindakan yang keji. Anda telah menghancurkan diri sendiri.

Jika Anda mulai mengalami gejala penyakit ini, resepnya sederhana. Bertemanlah dengan mereka yang menang. Kemudian, ubahlah cara berpikir Anda. Gantilah “Saya pengen kayak gitu,” menjadi “Bagaimana supaya Saya bisa seperti itu.”

LET GO OF ANGER

ANGER itu cuma satu huruf lebih pendek dari DANGER. Dan “D”, adalah nilai minusnya.

Alasan yang bagus bagi Anda supaya tidak marah, adalah memahami bahwa kemarahan akan menyebarluaskan kelemahan. Saat Anda marah, Anda sebenarnya berkata, “Saya takut! Saya Terluka! Saya frustrasi!” Itu, adalah kata lain dari “Saya lemah.”

Sadarilah bahwa orang, barang, atau situasi, akan cenderung membuat Anda selalu marah. Udah dari sononya begitu. Anda tidak bisa dengan mudah mengontrol sesuatu di luar diri Anda. Dan jika Anda marah, kemarahan Anda tidak akan membuat dunia berjalan sesuai kemauan Anda. Andalah yang harus menyesuaikan diri dengannya.

Sadarilah bahwa jika Anda menghadapi orang yang marah, they’re not being mean; they’re just being people. Like you. Dan seperti biasa, marah itu muncul disebabkan oleh fear. Rasa takut akan kehilangan kontrol.

Keinginan untuk mengontrol adalah benar. Tapi, ingin mengontrol orang lain itu salah. Yang benar, ingin memberi contoh teladan kepada orang lain. Mengontrol dengan kekuasaan? Salah juga. Apa yang perlu dikontrol hanyalah diri sendiri. Sekali lagi, maafkanlah mereka yang marah. Tidak ada yang salah saat seorang manusia bersikap dan bertindak sebagai manusia.

Anda sendiri, kurangilah marah Anda sebab Anda sendirilah yang akan merugi. Saat Anda marah, apa yang telah keluar sebenarnya tidak perlu keluar dan apa yang terlanjur sebenarnya tidak perlu terlanjur.

LET GO OF FEAR

Saat Anda menghadapi ketakutan, Anda berada di tengah-tengah persimpangan jalan. Satu cabang menuju kepada kepengecutan, dan satu lagi menuju kepada keberanian. Yang satu menuju harapan dan impian, yang satu lagi menuju kekecewaan dan kesedihan.

Anda tidak bisa mundur atau tetap diam, melainkan tetap maju dan memilih salah satu cabang. Dengan diam atau mundur, Anda tidak akan tumbuh dan berubah. Malah, Anda menuju ke kepunahan dan kematian.

Manage-lah fear Anda, sebab fear adalah False Evidence Appearing Real. Asli tapi sebenarnya palsu.

Jadi, tak usahlah Anda bersedih lagi. Bersenang-senang sajalah. Sibuklah. Lakukan yang terbaik. Tak perlu takut dan tak usah khawatir. Lakukanlah segalanya dengan semangat dan keberanian. Itu lebih baik buat Anda.

Bukannya tadi sudah Saya bilang, kalo Anda itu macan?

Saya Ingin Anda Sukses,
Saya Harus Membuat Anda Sukses.

Memulai bisnis sendiri

Bukan suatu hal mudah untuk memulai bisnis sendiri, tetapi sebaliknya, juga bukanlah hal sulit untuk dilakukan. Memulai bisnis pribadi merupakan hal yang menakutkan, dan sekaligus menarik. Mengapa? Di satu sisi, hal ini dapat menimbulkan Resiko besar, sedangkan di sisi lain, kesempatan besar dalam kehidupan juga sedang menanti. Oleh karena itu, sangat masuk akal jika Anda menjadi ingin tahu, apa saja sebenarnya, yang terlibat dengan diri Anda pada saat memulai berbisnis, dan apa saja yang bisa membuat langkah bisnis Anda ini bisa sukses.

Ini ada beberapa hal, yang mungkin bisa membantu Anda untuk memikirkannya sebelum terjun langsung membuka sebuah bisnis:

Carilah jalan dari beberapa cara bisnis konvensional, dan cobalah. Di sini Anda tidak harus, dan memang tidak perlu langsung melakukan cara yang benar bukan? So, Business is Learning by Doing, isn't it?

Jadilah orang yang kreatif, fleksibel, dan cepat tanggap terhadap perubahan yang terjadi, dengan mendapatkan informasi tentang pangsa pasar, dan peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi, yang sekiranya bisa mempengaruhi pangsa pasar itu.

Apa tujuan pribadi Anda untuk berbisnis sendiri ini? Apa yang Anda kehendaki dalam hidup? Jenis penghasilan seperti apa yang Anda inginkan? Di manakah Anda berada 5 tahun, 10 tahun mendatang? Ini semua bisa menyatakan tujuan pribadi Anda, dan ini bukan hal sepele. Anda harus memiliki dan mengetahui tujuan pribadi yang benar-benar penting bagi Anda, karena perlu Anda ketahui, bukankah bisnis itu sendiri merupakan sesuatu yang menuntut?

Tanyakan pada diri sendiri, apakah Anda sedang melakukan sesuatu yang ingin dilakukan? Apakah Anda bekerja dengan orang-orang yang memang Anda ingin bekerja sama untuk melakukannya? Apakah menurut Anda, kira-kira pengembalian investasi sudah bisa seperti yang diharapkan? Jika ternyata muncul perasaan tidak senang, tidak "mood", maka bisa jadi Anda tidak akan menjadi pengusaha yang baik dan sukses.

Punyai ide bisnis yang disertai hasrat membara atau "passion" pribadi untuk segera memulai dan mengoperasikannya. Hasrat pribadi ini semestinya menjadi bagian dari apa yang Anda kehendaki dalam hidup. Jika tidak, jangan harap Anda bisa mengubah semua ide Anda menjadi bisnis yang sukses.

Lihat kembali dan pikirkan pengalaman kerja Anda. Pengalaman kerja adalah bagian dari ide bisnis. Jika Anda ingin membuka sebuah bisnis, ada baiknya jika Anda ikut program "on the job training" atau magang kerja lebih dulu di bisnis yang sekiranya Anda inginkan. .

Harus berusaha memiliki pengetahuan dasar berbisnis, jangan ngawur atau percaya begitu saja "omongan ngawur" tokoh-tokoh bisnis yang sudah jadi milyarder...yang sering bilang, bahwa kalau mau bisnis ya jalanin aja gak perlu mikir. Saya jamin pada akhirnya, jika Anda mengikuti begitu saja "anjuran ngawur" itu, maka Anda akan benar-benar mikir belakangan, dan pusing seribu keliling, akibat bisnis Anda hancur, alias bangkrut dengan hutang melimpah. Ingat, pengetahuan dasar berbisnis ini merupakan salah satu pintu masuk untuk memulai bisnis Anda sendiri. Naluri, perasaan, ataupun intuisi bukanlah pengganti untuk pengetahuan. Jadi Anda harus mau belajar mendalami bisnis dengan ilmu pengetahuan.

Bertanyalah pada hati nurani Anda. Apakah Anda ingin mulai membuka bisnis baru itu karena ingin cepat menjadi kaya raya? Apakah Anda ingin cepat menjadi milyarder? Menurut saya, jika Anda ingin memulai bisnis sendiri dengan sikap seperti tersebut, maka itu bukanlah sikap yang benar. Uang memang penting, tetapi itu akan datang kemudian seperti yang Anda inginkan...setelah Anda melakukan usaha keras, tekun, pantang menyerah, dan dengan rasa hasrat membara.

Punyai "inner vision", yang mengarahkan Anda untuk melakukan semuanya dengan sebaik-baiknya! Berikan sesuatu yang dibutuhkan orang. Dengan “inner vision” seperti ini, maka yakinlah Anda akan dihargai orang terus-menerus, meskipun mungkin pada awalnya Anda belum menghasilkan uang yang banyak.

Jika Anda sudah memiliki sikap mau melakukan semuanya dengan sebaik-baiknya, maka ini akan membentuk Anda untuk memiliki komitmen sukses, dan membuat Anda untuk terus melangkah dari keadaan sekarang, untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Dan, pada gilirannya nanti, Anda akan menjadi seorang yang kaya ide, punya visi, dan sanggup menerapkan sesuatu yang lebih baik daripada orang lain, bahkan orang yang mungkin Anda lihat sebagai sosok terbaik pada saat ini.

Anda sebagai orang yang tidak puas dengan pekerjaan dan hasil kerja yang rata-rata (average), tetapi Anda akan menjadi orang yang puas dengan melakukan pekerjaan dan menghasilkan sesuatu yang besar (superior).

MAGANG YUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUK

PELAKSANAAN MAGANG SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN DAN PENINGKATAN KETERAMPILAN BERWIRAUSAHA
MAHASISWA STUDIO DESIGN MODE

Magang dilakukan oleh bebrapa mahasiswa Program Studi Tata Busana Jadwal kegiatan magang dilakukan setiap hari, mulai dari Senin sampai dengan Sabtu. Mengingat para mahasiswa di samping magang juga mengikuti kuliah, maka jadwal waktu pelaksanaan dibuat fleksibel. Materi praktek yang dipelajari mahasiswa selama magang adalah : teknik menjahit., teknik pengelolaan bengkel jahit (manajemen operasionalnya), merancang bahan, teknik menggunting, teknik pengepasan (fitting), teknik merancang desain busana serta manajemen operasional kursus menjahit dan merancang busana (dalam hal ini mahasiswa mengikutinya pada kelas khusus ± selama 32 kali tatap muka, masing-masing 3 jam). Target utama yang ingin dicapai mahasiswa adalah mengetahui bagaimana cara kerja secara mandri sebagai wirausahawan (entrepreneur)

Kata kunci : merancang busana. wirausahan, manajemen operasional khusus.

PENDAHULUAN

Kegiatannya bertumpu pada penelitian, berperan aktif dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS), untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Program pengembangan budaya kewirausahaan bagi mahasiswa mempakan jembatan untuk mewujudkan visi tersebut.

Penghasilan di sektor kewirausahaan yang merupakan sektor non formal sebenarnya cukup tinggi, rata-rata tidak di bawah penghasilan pegawal negeri, bahkan mungkin saja berada di atasnya. Seorang wirausaha yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mampu mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan untuk menuju kesuksesannya. Sehubungan dengan hal tersebut, jalur yang paling strategis untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di bidang tata busana adalah melalui jalur pendidikan formal (kursus keterampilan merancang, pattern maker, draping) yang sekaligus salah satu alternatif untuk mengurangi pengangguran

Dalam upaya persiapan memasuki dunia kerja, mahasiswa tata Busana khususnya, perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan kerja (kompetensi) baik dalam bidang pendidikan maupun keterampilan kerja di industri. Agar ada keterkaitan dan kesepadanan dengan dunia kerja. salah satu usaha yang harus diikuti mahasiswa dalam pendidikan adalah mengikuti kegiatan magang, karena dengan magang mahasiswa mengikuti pelatihan kerja langsung, dan selanjutnya dapat mendorong untuk belajar secara mandiri.

Agar pelaksanaan magang dapat berjalan dengan baik, maka bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional harus memadukan secara sistematik dan sinkron antara pendidikan di bangku kuliah dan program keahlian yang diperoleh melalui kegiatan langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu, Hal ini menuntut kesediaan industri untuk bekerja sama dengan pihak perguruan tinggi, dalam hal ini Teknologi Industri Kerumahtanggaan Program Tata Busana, dalam bentuk pelaksanaan magang mahasiswa. Program magang selain menguntungkan mahasiswa dan dosen pembimbing, secara tidak langsung juga memberikan sumbangan kepada industri, terutama dalam hal penyediaan tenaga kerja murah, dan industri berkesempatan menseleksi calon tenaga kerja baru yang berkualitas tanpa harus melatih lagi.

Program kerjasama harus menguntungkan pihak perguruan tinggi dan indusiri, sehingga perlu direncanakan dengan jelas tentang tujuan, tanggung jawab, sumber dana, fasilitas, jenis keterampilan kerja yang dilatihkan, waktu kerjasama, lingkup kerja sama, penempatan latihan kerja, dan cara-cara dalam mcngevaluasi program. Pemilihan industri pasangan harus memenuhi persyaratan, agar hasilnya maksimal.

Permasalahan dalam kegiatan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan dan wawasan mahasiswa di bidang kewirausahaan (wirausaha baru)?

2. Bagaimanakah cara mcningkatkan keterampilan mahasiswa di bidang merancang busana

3. Apakah faktor-faktor pendukung dan penghambat budaya kewirausahaan bagi mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Kerumahtanggaan?

Program perniagangan ini dirancang untuk mahasiswa Program Studi Tata Busana. Program permagangan tersebut dilaksanakan pada UKM yang dinilai relevan dengan bidang studi mahasiswa peserta magang, yakni UKM yang bergerak dalam bidang Merancang Busana.

Dalam kaitan dengan upaya budaya kewirausahaan pada kalangan mahasiswa, dari segi pelaksanaan terdapat dua hal yang perlu mendapatkan perhatian. Pertama, fakta menunjukkan bahwa waktu mahasiswa banyak dihabiskan untuk mengikuti kegiatan perkuliahan, baik intra maupun ekstra kurikuler. Kedua, jadwal waktu kegiatan permagangan kewirausahaan haruslah mcnyesuaikan dengan waktu yang ada di UKM.

Kewirausahaan dapat dipandang sebagai institusi kemasyarakatan yang mendukung nilai-nilai dan dinyatakan dalam perilaku. Nilai dan penlaku itu merupakan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis.

Hisrich dan Peters (1998) mendefinisikan kewirausahaan sebagal proses mengkreasikan sesuatu yang baru yang bernilai melalui konsentrasi waktu dan upaya yang diperlukan, menanggung resiko-resiko keuangan, kejiwaan, sosial dan menerima hasil pahala berupa kepuasan serta kemandirian keuangan dan pribadi.

Lebih lanjut Hisrich mengemukakan macam-macam keterampilan yang diperlukan dalam kewirausahaan adalah:

* Keterampilan teknis

Menulis, komunikasi lisan, pemonitoran lingkungan, manajemen bisnis teknis, teknologi, antar pribadi, mendengarkan, kemampuan mengorganisir, membangun jaringan kerja, gaya manajemen, menjadi seorang pemain tim.

* Keterampilan manajemen pribadi

Menyusun perencanaan dan sasaran, pengambilan keputusan, hubungan masyarakat, pemasaran, keuangan, akuntansi, manajemen, pengendalian, negosiasi, memulai kerjasama dan mengelola pertumbuhan.

* Keterampilan kewirausahaan pribadi

Pengetahuan diri sendiri/disiplin, pengambilan resiko, inovatif, berorientasi perubahan, berkesinambungan, pimpinan yang mempunyai visi ke depan serta mampu mengelola perubahan.

Sedangkan merancang busana biasanya orang mengira adalah mempercantik, memperindah atau menghiasi sebuah benda. Tetapi sebenarnya banyak yang ingin dicapai dengan merancang busana, antara lain:

1. Dapat berfungsi sebagaimana yang dikehendaki.

2. Aman dan kokoh (kuat).

3. Biaya pembuatannya memadai.

4. Mencerminkan atau memadukan selera zaman.

Seorang perancang busana (atau seorang penata busana) bekerja dalam keterbatasan, karena yang dihadapinya adalah sesuatu yang praktis dan konkrit. Dengan kata lain, seorang penata busana harus berkarya secara berkesinambungan. apabila ingin busana rancangannya dapat terjual.

Lapangan pekerjaan untuk seorang dengan pendidikan tata busana., menurut Wolfe Mary G. (1993) adalah:

(1) Sebagai Buyer, pada suatu toko besar atau department store, tugasnya:

a. Menentukan pemilihan dari sekian banyak penawaran.

b. Menentukan style, tema, trend tertentu,

c. Menyelenggarakan fashion show untuk kepentingan toko/department store tersebut.

d. Mengatur iklan dan publikasi, menentukan window display.

(2) Sebagal Desainer/Perancang

Yang bekerja pada pabrik (garment industry),pabrik tekstil, rumah mode. Dalam hal ini sang perancang harus mengetahui tentang sifat-sifat tekstil, konstruksi pola, pembuatan sampel, draping, teknik jahit. Dan pengetahuan tentang trend mode. (Ingat tentang pemasaran). Kreatif, punya kepekaan terhadap arus selera konsumen.

(3) Bekerja di bidang Fashion Advertising sebagai Art Director

Bekerja di bidang iklan yang harus mengurus bidang fashion, atau sebagai petugas periklanan dari suatu department store atau industri.

(4) Fashion Editor/Reporter

Salah satu pekerjaan yang paling siminati oleh para siswa sekolah mode adalah menjadi fashion-writer. Dengan demikian jabatan fashion editor lebih banyak terbuka kemungkinannya. Untuk bekerja di bidang ini, seseorang harus menguasai sejarah mode, istilah mode, dan kecakapan untuk membaca dan menulis, bahkan berbicara dalam beberapa bahasa asing. Seorang fashion editor akan membuat laporang tentang peristiwa-peristiwa mode , wawancara dengan tokoh-tokoh mode, dan menterjemahkan artikel.

(5) Fashion Photograper

Fashion photography saat ini memegang peranan terpenting dalam promosi mode. Pekerjaan seorang photographer biasa mencakup banyak hal:

memasang set/background menata lampu, menentukan casting (apa dan siapa yang mau di foto, bekerja di kamar gelap, memotret polaroid (zest photo), mencari lokasi. Bekerja sama dengan penata rias dan penata rambut. Untuk menemukan lowongan pekerjaan, seorang fashion photographer harus memiliki style atau gaya pnbadi tersendiri.

(6) Fashion Illustrator

Seorang illustrator bekerja dengan membuat ilustrasi dari desain orang lain. Gambar tesebut akan dipakai untuk iklan, brosur, undangan, poster, dan lain-lain. Untuk berkarir di bidang ini, sorang illustrator harus belajar di bidang seni (lukis), menguasai anatomi mode serta teknik-eknik illustrasi. Kemudian menyiapkan sebuah port-folio dan melamar pekerjaan dengan membawa port folio itu.

(7) Store Display Person

Bagaimana sebuah barang niaga disajikan sangat penting saat ini. Seorang penata display bertanggung jawab untuk etalage (window) dan mungkin juga untuk penataan interiornya. Penataan display harus peka terhadap warna, peka terhadap desain, dan dapat mengatur "lingkungan".

(8) Fashion Stylist dan Fashion-Coordinator

Seorang stylist dapat juga seorang buyer dan bekerja sama dengan desainer dan toko untuk menunjukkan penjualan di toko tersebut. Dalam styling dan co-ordination termasuk pemilihan bahan, warna slihoutette dan pakaian yang dipamerkan dan djual. Seorang stylist mencocokkan pakaian dengan aksesoris dan jewelry. Dia harus mengetahui banyak tentang desainer terkenal dan pabrik ternama.

(9) Fashion Research and Development

Mereka yang mengambil studi khusus ini dapat bekerja pada Fashion Information Services. Client mereka adalah perusahaan serat (fibers), produsen tekstil, perusahaan garment, toko-toko pengecer (macam Matahari di Indonesia), perusahaan kosmetik dan aksesoris. Dapat dikatakan pckerjaan di bidang ini lebih bersifat makro.

(10) Fashion Consultant

Consultant dapat berupa perusahaan atau perorangan yang memberi informasi secara teratur tentang trend yang sedang berjalan maupun yang akan datang. Membantu client pada satu fase dalam proses operasional perusahaan tersebut. Laporan dapat memuat gambar-gambar style, lengkap dengan nama produsen dan harga grosirnya.

Tujuan umum dari program ini adalah meningkatkan kemampuan, keterampilan, serta minat mahasiswa dalam bidang kewirausahaan, khususnya dalam bidang merancang busana. Tujuan tersebut kemudian secara operasional dijabarkan menjadi tujuan khusus sebagai berikut:

1) Meningkatkan kemampuan dan wawasan mahasiswa dalam bidang kewirausahaan, yang diperoleh melalui ketertiban dan pengalaman secara langsung dan kegiatan magang.

2) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa dalam bidang merancang busana

3) Meningkatkan minat dan motivasi kewirausahaan mahasiswa, agar setelah tamat dapat memberikan dorongan menjadi wirausaha baru bagi yang berminat.

4) Memberikan peluang bagi para dosen pembimbing mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan tentang strategi dan kiat dalam mengelola magang kewirausahaan mahasiswa, khususnya dalam bidang usaha merancang busana (desain busana dan menjahit).

5) Menmgkatkan ketertiban dan kesepadanan antar program studi di Universitas Negeri Surabaya dengan UKM, khususnya Program Tata Busana dengan merancang busana (desain busana dan menjahit).

Manfaat dan ketercapaian tujuan program dari sisi UKM mitra sebagai tempat magang adalah:

1) Dalam jangka pendek berupa tambahan tenaga kerja murah (bahkan, gratis), sehingga dapat menekan ongkos produksi.

2) Dengan masuknya tenaga intelektual dan terdidik, diharapkan adanya masukan,berupa rekomendasi dari mahasiswa pemagang dan dosen pembimbing yang bermanfaat bagi upaya perbaikan dan peningkatan pengelolaan usaha dan pengembangan skala usaha, dan

3) Harapan dan kerjasama yang dapat digunakan sebagai sarana promosi produk pada sasaran lebih luas, dampaknya akan dinikmati dalam jangka panjang, paling tidak mahasiswa peserta magang dan dosen pembimbing akan berperan sales informan.

Manfaat yang dapat dipetik oleh mahasiswa peserta magang dari kegiatan ini adalah:

1) Peningkatan kemampuan dan keterampilan teknis tentang pekerjaan menjahit dan merancang busana, serta aspek pengetahuan dalam menafsir besarnya nilai harga pekerjaan dengan kriteria tetap untung namun bersaing,

2) Tambahan wawasan tentang pengelolaan kewirausahaan yang mencakup rencana usaha, membaca peluang usaha, cara memperoleh modal, pemasaran produk, dan kerjasama dengan klien atau pelanggan, dan

3) Tambahan pengetahuan sebagai masukan terbentuknya sikap kewirausahaan mahasiswa yang mencakup etos kerja berupa kerja keras, tantangan yang berat, tanggung jawab kerja mandiri, disiplin, dan sikap tidak mudah putus asa dan menyerah, serta harapan peluang keberhasilan.

Bagi lembaga perguruan tinggi pelaksana program magang ini, manfaat yang bisa dipetik adalab:

1) Peningkatan dan bekal kemampuan kewirausahaan lulusannya,

2) Hubungan yang baik dengan UKM dan masyarakat,

3) Peningkatan kualitas wawasan kewirausahaan dosen, dan

4) Tambahan bahan untuk pengkajian penngkatan relevansi kunkulum perguruan tinggi.

METODE PELAKSANAAN

Program Magang Kewirausahaan ini merupakan program rintisan, yang rencananya akan dekembangkan menjadi kegiatan yang bersifat melembaga dan berlangsung secara berkesinambungan untuk jangka panjang. Oleh karena itu, yang menjadi pelaksana program magang ini adalah Jurusan Teknologi Industri Kerumahtanggaan, TATA BUSANA

Kegiatan magang ini dirancang sesuaiacuan jadwal, di mana mahasiswa sudah menyelesaikan sebagian besar mata kuliahnya. Program magang meliputi penentuan lama waktu magang, jumlah SKS, dan jenis UKM, pengembangan institusi pasangan lembaga pelaksana magang, yakni tata busana dan MKU; perumusan kurikulum program magang dan metode pelaksanaan; penyiapan dosen pembimbing magang; rekirutmen mahasiswa peserta magang; pelaksanaan kegiatan magang; dan monitoring dan evaluasi kegiatan magang; serta review program untuk program magang yang akan datang.

Mekanisme pelaksanaan program magang ini dikembangkan menjadi 4 (empat) tahap, yaitu tahap perencanaan,
tahap pelaksanaan,
tahap monitoring dan
evaluasi dan tahap refleksi.
Lama kegiatan program ini ditentukan selama 6 (enam) bulan, dengan alokasi waktu untuk kegiatan perencanaan selama 2 (dua) bulan, pelaksanaan kegiatan magang mahasiswa selama 2 (dua) bulan, dengan dibutuhkan waktu 1 (satu) bulan untuk kegiatan penyusunan laporan kegiatan dan perumusan rekomendasi untuk program magang tahun berikutnya, serta membutuhkan waktu 1 bulan untuk urusan administrasi baik di LPM maupun di Jakarta.

Tahap Perencanaan

Tahap ini mencakup kegiatan
(a) penentuan lama waktu program magang, jumlah SKS dan jenis UKM;
(b) pemilihan institusi pasangan;
(c) perumusan kurikulum dan metode pelaksanaan;
(d) penyiapan dosen pembimbing program magang; dan
(e) rekrutmen peserta magang;
(f) perumusan teknik monitoring dan evaluasi program magang.

Penentuan lama waktu magang, jumlah SKS, jenis UKM, dan pemilihan UKM, ditentukan oleh tim pelaksana program bcrdasarkan kesesuaian dengan tujuan dan potensi yang dimiliki pelaksana program.

Setelah terpilih UKM, langkah selanjutnya adalah merumuskan kurikulum magang, metode pelaksanaan dengan magang, persiapan dosen pembimbing, rekrutmen mahasiswa peserta magang. teknik monitoring dan evaluasi program. Kegiatan ini dilaksanakan secara bersama oleh pelaksana magang, yaitu Mahasiswa Tata Busana dan UKM. Teknik yang dikembangkan yakni kedua belah pihak saling mengunjungi dan rapat komisi atau musyawarah untuk membuat kesepakatan-kesepakatan. Penyiapan dosen pembimbing bisa dilakukan dengan penyegaran di UKM. Rekrutmen mahasiswa magang dilakukan dengan sasaran menjaring mahasiswa yang berminat tinggi menerjuni wirausaha bidang relevan

Tahap Pelaksanaan

Tahap ini mencakup kegiatan magang mahasiswa pada UKM mitra selama 2 (dua) bulan. Tahap pelaksanaan ini dipilih menjadi dua, yaitu tahap kegiatan pembekalan atau orientasi magang yang dilaksanakan di kampus dan pelaksanaan magang di tempat UKM. Kegiatan orientasi ini dibimbing oleh dosen pembimbing yang telah disiapkan, dengan maksud agar mahasiswa sudah memperoleh gambaran awal tentang pekerjaan yang akan dipelajari dan dilakukan di UKM tempat magang. Kegiatan orientasi ini dilakukan selama satu minggu, yang berisi tentang gambaran pekerjaan yang akan dilakukan, target yang harus dicapai, dan tata tertib yang harus dipatuhi selama mengikuti magang. Sedangkan, model pelaksanaan magang di UKM akan durumuskan kemudian oleh tim pelaksana dan UKM, berdasarkan kriteria kedua belah pihak, alternatifnya bisa day release, block release, hour release atau bentuk yang lain.

Tahap monitoring dan evaluasi

Tahap mi mencakup kegiatan monitoring dan evaluasi program magang mahasiswa yang difokuskan pada segi proses dan hasil magang. Teknik monitoring segi proses magang dilakukan sepanjang proses kegiatan magang oleh dosen pembimbing dan pembimbing magang dari UKM. Sedangkan evaluasi dari sisi gasil magang dilakukan melalui laporan mahasiswa pesera magang, kesediaan UKM untuk dipakai magang pada tahun berikutnya, dan penilaian berasama oleh dosen pembimbing, mahasiswa dan pihak UKM. Di samping itu, dalam monitoring dan evaluasi dikembangkan teknik self-evaluation oleh mahasiswa, melalui laporan egiatan harian pada buku log(buku jurnal kegiatan mahasiswa magang) dari awal sampai akhir kegiatan yang diketahui oleh pembimbing magang dari UKM dan disahkan oleh dosen pembimbing magang.

Tahap Refleksi

Tahap ini merupakan hasil revisi dan review dari seluruh rangkaian program kegiatan yang dianalisis secara sistematis dan sistemik dari sisi mahasiswa peserta magang, dari sisi UKM sebagai mitra pelaksanaan magang, dan dari sisi dosen pembimbing. Ringkasnya, tahap refleksi ini merupakan tahap perumusan rekomendasi untuk penyusunan program kegiatan magang pada tahun berukutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan program magang mahasiswa ini ternyata belum sampai menghasilkan solusi penemuan metode penyelesaian masalah industri kecil mitra. Salah satu alasannya, kerjasama masih dalam tahap embrio dan mahasiswa justru banyak belajar pada UKM yang dimagangi, bukan sebaliknya.

Dari empat butir indikator pencapaian keberhasilan tujuan program, ternyata hanya dua butir yang berhasil dicapai, yakni: (1) adanya kesediaan UKM tempat magang untuk dijadikan sebagai tempat kegiatan program magang pada tahun berikutnya yang dibuktikan dengan adanya Surat Pernyataan Kesedian dari UKM; (2) refleksi untuk perbaikan program magang yang dirumuskan dan hasil evaluasi mahasiswa, pengusaha UKM dan dosen pembimbing magang, yakni adanya pengaturan jadwal kegiatan magang yang disinkronkan dengan kegiatan kuliah di perguruan tinggi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Program magang kewirausahaan dengan tujuan untuk menunjukkan minat dan kemampuan kewirausahaan mahasiswa dinilai tetap penting sehingga perlu terus dikembangkan, mengingat perubahan dan pembaharuan bagi bisnis kecil/menengah dan juga besar dapat dilakukan apabila ada gagasan-gagasan besar yang mendorong inovasi dan terus menerus meluaskan wawasan kewirausahaan.

Disadari bahwa dari hasil kegiatan yang telah dilakukan masih terdapat banyak kelemahan dan kekurangan, baik dari sisi pelaksanaan program, kegiatan-kegiatan, maupun dari sisi pencapaian hasil kegiatan, yang diwujudkan dalam indikator-indikator yang teruji. Kekurangan dan kelemahan tersebut adalah wajar dan akan disempurnakan pada program-program yang akan datang.

Saran

Dalam rangka penyempurnaan program pemagangan yang akan datang, maka:

1. Program perlu ditingkatkan menjadi kerjasama antar fakultas atau jurusan dengan UKM yang secara melembaga dan kontinyu, tidak hanya sekedar kerjasama antara dosen dan UKM yang dipayungi LPM.

2. Program pemagangan dikoordinasikan bersama oleh PT dan UKM, dengan mengatur dan membagi tugas dan peran masing-masing.

3. Program magang lebih diorientasikan kepada bagaimana UKM mengelola usahanya, seperti kiat pemasaran produk jasa, mengelola karyawan, mencari bahan yang murah, menjamin kesan yang baik dengan konsumen/pelanggan, dan kiat-kiat teknis yang bisa meningkatkan keunggulan UKM.

Dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan program magang, diperlukan:

1. Pengaturan jadwal kegiatan magang di UKM dan kegiatan kuliah di PT secara melembaga oleh jurusan di PT, agar kegiatan magang bisa maksimal.

2. Seleksi minat bagi para peserta magang, agar kegiatan bisa berjalan dengan lebih baik.

3. Penekanan pada aspek kewirausahaan tanpa mengabaikan aspek keterampilan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Instansi yang bersangkutan

KEPUSTAKAAN

Alma Buchori, (2000), Kewirausahaan, Penuntun Perkuliahan untuk Perguruan Tinggi, Edisi Revisi, Bandung: Penerbit Alfa Beta.

DP3 M, (1999), Panduan Program Pengenangan Budaya Kewirausahaan di Perguruan Tinggi, Edisi Ketiga, April.

Hisrich and Peter, (1998), Entrepreneurship. International Edition.

Mamiati, Widagdo Aryani, (1996), Tata busana (Program Lengkap bagi Mereka yang Akan Membuka Usaha Modes atau Garment), Surabaya: Arva Studio Desain.

Meredith Geoffrey G., (1989), Kewirausahaan (Teori dan Praktek), Seri Manajemen Strategi No. 1, Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.

Wolfe, Mary G, (1993), Fashion, A story of Clotting Design and Selection, Textiles, the Apparel Industries, and Careers, South Holland, Illinois: The Good Heart-Willeat Company Inc.
-------------------------------------------




MO Tahu soal Gue.......

My photo
Lulus dari seni rupa Solo Dan Jogya, jurusan seni kriya batik, patung dan ukir kayu,dan melanjutkan ke Design Komunikasi Visual ( DISKOMVIS ) Menyukai Teater, dan lukis, telah mengikuti beberapa lomba dan pameran, baik, pameran seni kriya, patung, lukis di solo dan jogya Bekerja di Ramayana Lestari Santosa Tbk Group di Jakarta( 1992 – 1993) Surabaya ( 1993 – 1994 ) Jogyakarta( 1994 – 1995 ) Semarang( 1996 – 1997 ) Bali ( 1997) sebagai Visual merchandiser. Visual merchandiser Pt Pakuwon Jati Tunjungan plasa Surabaya( 1995) Dekorator Citraland Semarang ( 1996 – 1997 ) Fashion Show Bali fashion week 2001 Hongkong Fashion Week 2006 Bali fashion week 2005 Fashion Tendenace APPMI Jakarta 2005 Fashion JFFF Jakarta 2006 Bali fashion week 2007 Dubai Fashion Week 2005 Fashion show german venus fair 2007 Fashion show indonesia switzerland 2008 Jebolan tata busana di LPTB Adrianto Halim Masuk APPMI ( 2004 sampai sekarang, Sebagai guru pengajar di Bali design Scholl LPTB Susan Budihardjo bali thn 2008 Fashion Els School Bali